Monday, May 19, 2008

23 - NP

Pintu mahoni itu berayun anggun. Dari baliknya muncul sesosok wanita berambut abu-abu, terlihat mengantuk dengan secangkir kopi semendo harum di tangannya. Dia menatapku ramah, dan bingung tentunya. Belum sempat ia berkata-kata, Scalligus muncul dengan gerakan "surprise" dari persembunyiannya di balik punggungku, membuat kopi sang nyonya rumah nyaris tumpah seutuhnya.

"Aaaaaaahhh Dhaniiii!!" tawanya renyah, sambil memukuli Dhani -yang selama ini kukenal hanya sebagai Scalligus- dengan sayang. Sang terpukul hanya tertawa-tawa, sebelum akhirnya merangkul sang nyonya rumah dalam pelukan panjang penuh nostalgia. Liza Jasper, arkeolog Yunani nan kharismatik yang selama ini hanya kukenal lewat media, sekarang berdiri di depanku dengan tingkahnya yang mengejutkan. Ia begitu hangat dan ceria, dan melihatnya dengan Dhani bagaikan melihat seorang ibu yang menyambut kepulangan anaknya.

"Eh kamu ngapain tiba-tiba ke sini? Ini cewek kamu ya?" ujarnya bersemangat sambil menyuguhkan segelas teh rempah hangat. Sungguh, berkunjung ke rumahnya membuatku merasa kembali ke masa-masa kecilku di kampung. Sedikit senyumku berulas, tercubit kerinduan akan tenangnya dunia kanak-kanak.
"Maunya sih, Bunda! Udah bujang lapuk nih!" lagi-lagi tawa renyah memenuhi ruangan ini. Mau tak mau diriku pun terasa menghangat berada di tengah-tengah mereka. Satu jam kami berbasa-basi, bercerita dan bergosip kesana kemari, hingga kemudian sang dosen mulai penasaran akan maksud kedatangan kami yang sebenarnya.

“Ini Bunda,” Scalligus mengeluarkan salinan manuskrip sial itu. Liza meraihnya antusias, dan sinar kegirangan di matanya itu sedikit banyak membuatku optimis.
“Kita perlu main tebak-tebakan disini! Ningsih, Dhani ini jago dalam ngerangkai hieroglyph,” ujarnya hangat. Diamatinya kertas mungil itu sejenak,
“Keep, watch!”
“Amon-Ra”
“Soul”
“Hole, massive, blow,”
“Grim”
Liza berhenti, menggeser jarinya pada sebaris simbol dan menunjukkannya kepada kami.
“Dhani, ini nggak pernah Bunda temui. Kamu yakin ini simbolnya?” Segera kuanggukkan kepala. Aku benar-benar yakin akan keidentikan penyalinan seluruh simbol-simbol ini, termasuk barisan janggal ini: Sebarisan ular dalam berbagai gerakan. Ada yang terpenggal celurit, ada yang memakan celurit. Sebuah karakter yang unik menarik perhatianku: ular yang melilit uterus. Ya, aku yakin itu uterus. Tapi bagaimana mungkin orang Mesir kuno sudah mengenal uterus dan celurit? Bukankah ini hieroglyph generasi pertama?
“Bunda, Ningsih…” suara Dhani memecahkan kesunyian.
“Baris pertama itu…”
”Oh my god!! Pinter kamu Dhani!! The Omega Triangle!!"
Aku mengernyitkan dahi, antara bingung dan kesal,
“Itu ritual pemerasan jiwa orang Sumeria kuno, Ningsih,” terang Liza. Aku tersenyum sebal. Bagus!!! Sekarang aku menghadapi sebuah hieroglyph Mesir yang ditemukan di Zimbabwe yang menceritakan tentang ritual Sumeria kuno!!!

No comments: