Sunday, March 23, 2008

19 - FAP

Forgessa menatap lesu segelas air di hadapannya. Dalam beberapa menit, rapat rahasia Consdafold akan dimulai, dan dia benar-benar tidak berminat untuk mengikutinya. Sudah berkali-kali dia meminta Djosh untuk mengizinkan dirinya untuk tidak rapat. Namun Forgessa adalah pemain krusial dalam perang ini, tentu Djosh menolak permintaannya.
“Forgessa, bagaimana misimu?” tanya Djosh membuyarkan lamunannya. Forgessa tidak sadar bahwa rapat telah dimulai.
“Tenang saja. Si Abdul itu bukan apa-apa,” jawab Forgessa malas sambil mengibaskan tangan kanannya.
“Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan yang lain? Ada kemajuan? Ya, Scalligus?” lempar Djosh lagi pada anak buahnya.
“Belum ada kemajuan yang berarti,” jawab Scalligus. “SnakOm tampaknya belum siap untuk mengambil langkah-langkah drastis. Mereka belum memecahkan telur apapun.”
“Baiklah…”
Rapat pun terus berlanjut. Forgessa diam saja, tidak berminat untuk bergabung sama sekali. Alangkah lega dirinya saat rapat itu selesai. Forgessa langsung bergegas menuju mobilnya agar segera pergi dari sana. Sialnya mobil tuanya tiba-tiba tidak bisa dinyalakan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pemuda tampan yang tiba-tiba muncul di samping jendela Forgessa. Forgessa tampak mengingat-ingat sebentar.
“Anda yang bernama sandi Scalligus, ya?”
“Betul sekali. Ada masalah dengan mobilnya?” tanya Scalligus dengan senyum ramah. Forgessa hanya mengangkat bahu.
“Boleh menumpang?” kata Forgessa.
“Tentu! Silakan!”
Tanpa banyak komentar, Forgessa pun menaiki mobil Scalligus. Forgessa tak banyak bicara. Entah mengapa dia sudah mulai jenuh. Sementara Scalligus sendiri terus mengoceh tanpa henti.
“Scalligus, aku turun di sini saja,” sela Forgessa saat mobil Scalligus berhenti di lampu merah. Sebelum Scalligus sempat menghentikannya, Forgessa sudah berlalu.
Apa mauku sekarang?


Random 5 menatap Forgessa dari layar pengintai. Sulit. Ternyata Forgessa lebih sulit untuk ditembus dari yang dipikirkannya. Dia terlalu meremehkan Forgessa.

Thursday, March 20, 2008

18 - ABS

Entah bagaimana caraku untuk mendekati pria ini. Sorot matanya yang tajam seakan-akan mengoyak-ngoyak hati orang yang mencoba mendekatinya. Perjumpaan kami di bandara Imam Khomeini, Dubai yang telah Consdafold rencanakan membuatku gugup setengah mati untuk sekadar bertanya jam berapa saat ini. Suara gemetarku keluar saat ia sedang duduk santai membaca koran. Dipandanginya semua tubuhku yang sangat menggoda ini saat ia menoleh ke arahku sambil melihat jam Rolexnya itu. "Jam 12.30 sekarang. Apa nona tidak melihat jam digital besar yang tergantung di depan itu?" tanyanya.
"Maaf, tapi alangkah baiknya jika dengan tidak melihat jam besar itu saya sekarang memiliki teman bicara yang sangat mengesankan," jawabku kepadanya dengan jantungku yang berdegup semakin kencang.

"Perkenalkan, Nona, namaku Raizarun Abdul Tholib. Sungguh mata saya tidak akan bisa lepas dari magnet-magnet di tubuh Nona yang terus menarik mata saya untuk memandangi Nona. Boleh tahu ke mana Nona mau pergi?"
"Saya akan ke Singapura. perkenalkan, nama saya Forgessa. Dan hati saya tidak akan berhenti berdegup kencang jika terus melihat mata Tuan dan mendengar suara anda membuat saya tahu betapa lembutnya anda!"

Itulah perkenalanku dengan Raizarun Abdul Tholib, seorang tangan kanan dari SnakOm. Kami terus berbincang-berbincang di pesawat. Entah bagaimana kami bisa duduk berdampingan. Sungguh tidak terlihat ia seorang pembantai kejam. Ditambah sorot matanya itu yang membuatku makin menyukainya. Ku terus menggodanya dengan tutur kata sopan dan membuatnya tertarik padaku. Sepertinya ia mulai menyukaiku, ini terlihat dari matanya yang terus memandangiku seakan-akan tidak percaya akan kesempurnaan tubuhku ini. Tanpa sengaja kulihat tato ular dan lambang omega di telapak tangannya.
"Apa tato itu dari orang tua anda? Gambarnya sangat unik dan pasti ada maknanya. Maukah anda bercerita sedikit tentang tato itu?"
"Ini adalah tato yang diberikan kakek buyutku, seorang Al-Murrah yang menurutnya gambar ini mucul di mimpi kakek buyutku dan membuatnya mampu mengubah dunia ini di mimpinya. Dan itu ambisiku, mengubah dunia ini, dunia yang sudah dipenuhi kebusukan!"

Jawabannya itu membuatku tahu bahwa seorang SnakOm sangatlah tenang, pintar, dan sangat meyakinkan bahwa mereka sangatlah hebat. Tanpa kuduga Raizarun Abdul Tholib memberiku kartu nama dan ia juga meminta kartu namaku dan berjanji akan menghubungiku lagi nanti malam. Sepertinya ia sangat tergesa-gesa begitu pesawat telah mendarat di Bandara Internasional Changi. Sepertinya ada pertemuan rahasia yang harus segera ia hadiri.
Kuikuti langkah cepatnya itu dengan sangat hati-hati. Aku harus mengikutinya untuk mengetahui gerak-geriknya....

Wednesday, March 19, 2008

17 - NP

Aku beringsut memandangi korbanku. Seorang pria paruh baya yang sederhana. Politikus ternama yang tampak begitu bersih dan bersahaja dari sisi manapun. Bahkan ketika ia tertidur pun wajahnya begitu tak bersalah, luput dari penampakan dosa besarnya. Kubelai kepala pria itu. Sedikit ragu yang bercampur perasaan bersalah menyusupi benakku.

Pemain belakang organisasi teroris dalam topeng politikus liberal. Sebenarnya aku sedang mempertaruhkan nyawa.


”Forgessa.” Sekonyong-konyong suara parau Djosh bergaung di telingaku. Aku sedang mulai membiasakan diri dengan metode telepati yang entah bagaimana telah kukuasai ini, meskipun masih aku bingung setiap kali suara bariton parau ini menyapaku.
”Jangan pernah bergerak tergesa-gesa. Tugasmu adalah membuat lelaki ini jatuh cinta padamu dengan cara selembut mungkin, sehingga kau bisa menumbuhkan cinta yang benar-benar suci. Selain itu kau harus tetap memantau setiap pergerakannya dengan mata batinmu. Ketika kau sudah benar-benar merasuk dalam hidupnya, kau akan menghabisinya perlahan-lahan. Aku minta kau untuk sangat berhati-hati dalam menyelesaikan misi ini, karena inilah jalan masuk kita menuju SnakOm.”

Aku tersenyum pedih mendengar tugas muliaku ini. Raizarun Abdul Tholib ini adalah pemain belakang yang begitu kejam membantai ratusan ribu manusia dengan politik adu dombanya dalam perang Irak. Ia bergerak di belakang JI juga CIA. Ia pula yang menjaga kelangsungan berbagai perpecahan rasial dan spiritual dengan menanamkan kebencian pada pihak-pihak yang tadinya hidup damai. Dan ia mendanai segala operasi militer, jihad, gerakan separatis dan segala tetek bengek destruktif lainnya dengan memanipulasi uang rakyat. Metode yang digunakannya yang benar-benar rapi dan terencana, yang akan aku cari tahu pula modusnya dalam misiku ini. Masih ada lagi, dengan bersembunyi di balik topeng bersihnya, sangatlah mudah baginya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah ke arah yang tampak indah namun sebenarnya mengarah kepada harakiri bangsa. Semua dilakukannya di bawah naungan satu nama: SnakOm.

Tetapi ada yang membuatku begitu gentar padanya. Caranya berbicara dengan anak dan istrinya -yang tak pernah tahu siapa ia sebenarnya- begitu lembut dan penuh cinta. Sikap yang sama pun ditebarkannya kepada semua orang: tutur bahasa yang sopan, lembut, tulus, dipadukan dengan tingkah laku halus dan anggun. Ia tampak begitu damai dan penuh cinta. Menelusuri fakta dan bukti bahwa ia bisa begitu kejam dalam membunuh dan memanipulasi orang membuat lututku bergetar. Dan sikap mentalnya meyakinkanku bahwa ia memanglah sosok teroris sejati. Begitu baik ia memperlakukan perempuan, pun gagah permainannya di atas ranjang. Ia tampak begitu terbuka, ketika sebenarnya ia sedang menebar dusta dengan kehati-hatian yang begitu mengerikan. Ini dia: ia begitu hati-hati. Sebenarnya kepercayaan diriku sudah berada di level terendah dalam menghadapi lelaki ini. Dan untuk menumbuhkan cinta... Aku tak tahu berapa lama harus kuhabiskan untuk membuka pintu masuk Consdafold ke dalam penghancuran SnakOm. Sepertinya pekerjaan ini akan mengikatku seumur hidup.

Sunday, March 16, 2008

16 - FAP

Random 5 berdiri di hadapan sebuah pintu. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Seorang ajudan mempersilakannya masuk dengan sebuah anggukan kepala. Di dalam ruangan itu, duduk seorang pria setengah baya di balik meja. Dengan tenang, pria itu hanya memperhatikan Random 5 dari balik asap cerutunya. Tangannya bergerak, isyarat bagi Random 5 untuk mendekat. Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari lacinya. Sebuah lencana. Pada bagian depan lencana itu, terdapat ukiran ular dan lambang omega yang saling melintang.
“Selamat atas kenaikan pangkatmu. Kau siap untuk menjalankan tugasmu sebagai agen ganda, Random 5?” tanya pria itu serius.
“Siap, Random 1,” jawab Random 5.
“Ingat! Jangan sampai mereka mengetahui nama Random 5, yaitu sandi identitasmu di dalam SnakOm. Kau harus bermain dengan sempurna, agar mereka tidak curiga bahwa kau sebenarnya adalah mata-mata SnakOm. Mengerti?”
“Mengerti.”
Lagi-lagi dengan satu gerakan tangan, Random 1 mengusir Random 5 dari ruang kerjanya. Random 5 tidak menghabiskan waktu lagi. Dia segera menuju lapangan parkir bawah tanah dan menjalankan mobil merahnya. Meskipun sudah bersemangat untuk segera memulai tugasnya, sayang jalanan macet harus menghambatnya. Sambil menunggu lalu lintas lancar, Random 5 mengeluarkan sebuah foto dari map yang tergeletak di kursi penumpang.
Random 5 memperhatikan gambar seorang wanita cantik di tangannya.
“Forgessa 77,” gumam Random 5. “Jadi kau wanita yang harus aku perdaya?”
Random 5 mematut wajah tampannya pada kaca spion. Melihat parasnya sendiri, Random 5 tersenyum. Sepertinya tidak akan sulit untuk memikat Forgessa 77.
Tak lama kemudian, mobil merah Random 5 berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta.

Random 5 adalah seorang agen ganda yang sangat ahli di bidangnya. Sudah bertahun-tahun dia menekuni dunia ini. Awalnya dia merupakan seorang agen bermasa depan cerah di Badan Intelijen Negara Indonesia. Namun semua birokrasi itu membuatnya gemas. Sampai akhirnya SnakOm mendengar tentang keahliannya dan langsung merekrut Random 5. Saat itu SnakOm memberikan iming-iming yang luar biasa pada Random 5. Dengan keahliannya, Random 5 mencari tahu apakah organisasi gelap bernama SnakOm itu memang benar-benar ada. Di balik penelusurannya, Random 5 justru mendapatkan fakta bahwa SnakOm merupakan suatu organisasi yang tidak main-main. Kekuatannya luar biasa. Inilah kesempatan yang telah ditunggu Random 5 sejak dulu. Tanpa pikir panjang, Random 5 menerima tawaran SnakOm.
Sekarang ia siap menjadi agen ganda di SnakOm dan Consdafold.

15 - ABS

Saat kuingat semua kenangan lama, aku semakin malas untuk menyelesaikan semua misi omong kosong ini. Semua ini kebohongan, hanya itu yang di pikiranku saat ini ketika kuingat semua kenangan itu.
"Tri! Mana kunci mobilku? Biarkan aku pergi sebentar untuk menenangkan pikiranku!"
"Ini kunci mobilmu! Jangan terlalu lama kau pergi, masih banyak yang harus kita selesaikan!" sahut Tri.

Djosh hanya tersenyum seperti biasanya melihatku pergi. Aku merasa aneh, sepertinya Djosh tahu apa yang akan terjadi dan ia juga tahu apa yang kupikirkan saat ini. Akhir-akhir ini aku semakin sering memikirkan Djosh. Ah, biarkan saja. Toh, Djosh memang tampan. Kubawa mobil ford-ku melintasi hutan bambu untuk pergi ke pusat perbelanjaan di Kota. Sedikit minum Jack Daniels di bar mungkin akan menenangkan pikiranku. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas. Tidak terasa sudah tiga gelas aku minum. Sepertinya saraf-saraf sadarku mulai bergerak semaunya dan halusinasi mulai menggelayuti otakku.

Duduk di pojok samping bar membuatku dapat melihat keluar. Orang-orang yang hilir mudik. Seketika alkohol membuatku berhalusinasi. Kulihat semua yang ada ini berubah mengerikan. Muka-muka iblis hilir mudik di depanku berteriak minta dibebaskan, menarikku ke dalam neraka kehancuran, semuanya hancur, hanya debu abu-abu yang ada menjadi santapan bagi orang-orang di sana. Apakah aku ingin semua ini terjadi? Memang aku adalah seorang pelacur dan aku lebih suka menjadi pelacur dibandingkan menyelamatkan dunia dan menyelesaikan misi omong kosong ini. Mendapatkan uang dan kenikmatan, itulah konsep dasar yang sangat kusukai menjadi pelacur. Tapi aku tidak mempunyai suatu tujuan hidup. Sejak aku mendapat misi ini aku memiliki tujuan hidup yang selama ini telah kulupakan. Aku tersadar di tengah semua halusinasi itu. Dan kumantapkan hatiku untuk segera menerima misi.

Kutancap gas menuju ke rumah Tri. Aku sudah siap untuk segera menyelesaikan misi yang akan mereka berikan. Aku tidak akan lari dari semua kenyataan ini. Akan kuhadapi semua ini, semua takdirku menjadi seorang Forgessa 77. Kutapaki jalan setapak di halaman rumah Tri untuk segera mengatakan kepadanya, " cepat kita selesaikan semua ini!"
"Memangnya kami ingin berlama-lama menyelesaikannya? Dasar bodoh!!" jawab Tri dengan tersenyum miris.

Djosh, yang sudah berada di ruang rapat dengan berbagai rencana lain Consdafold untuk mengagalkan rencana Snakom, segera menyuruhku duduk.
"Kita tutup sebentar semua rencana tadi. Saya akan menjelaskan misimu, Gessa, dan misimulah yang memegang peranan penting bagi semua rencana kita!" tutur Djosh.

Wednesday, March 12, 2008

14 - NP

Api di mana-mana. Dia menari-nari indah dalam kobaran api. Senyumnya terulas pedih. Dibiarkannya api menjilati tubuhnya. Jelaga menghabisi kecantikannya. Tapi dia tidak terbakar.

AKU TIDAK TERBAKAR!!!


Aku terlonjak bangun. Gerakanku begitu tiba-tiba sampai dua orang polisi yang tadinya mengurusi aku mundur sekitar dua meter. Satu kerdip. Kudapati Tri Ramayana berdiri tenang beberapa meter dariku. Dua kerdip. Kudapati lidah-lidah api mungil menari anggun menghabisi sisa-sisa puing rumah tua Pras lengkap dengan halamannya. Tiga kerdip. Tak ada Pras dimana-mana.

”Pras!!! Mana Pras?!” aku terlonjak berdiri. Hatiku tidak karuan. Apa lagi kali ini?! Kedua polisi di sampingku berusaha menenangkanku, tapi tenaga mereka tak cukup kuat untuk menghentikan langkah panikku menuju puing-puing rumah. Tak kutemukan apa-apa, dan selanjutnya aku tak mengerti lagi ke mana kakiku melangkah. Yang kuingat hanyalah langkah-langkah bingungku diiringi tatapan prihatin orang-orang dalam kacaunya hiruk pikuk. Selanjutnya gelap.

***

Aku terbangun. Hal pertama yang kulihat adalah jam antik di sudut ruangan. Selanjutnya kukenali lukisan abstrak aneh serta susunan acak sofa tempatku tidur ini. Rumah Tri Ramayana. Aku tersenyum pedih ketika kujumpai dia duduk manis di depanku. Bersama Djosh tentunya.

”Kalian berdua setan,” sapaku dingin. Aku sendiri terkejut mendapati ketenanganku ketika mengucap kalimat ini.
”Ningsih, bukan kami yang membakar rumah Pras,” Tri berusaha menjelaskan walaupun Djosh tetap tersenyum tenang seperti biasanya.
”Aku tahu aku yang melakukannya. Kau ingat kunci yang kau berikan, Tri? Ya, kunci itu membawaku menemukan kekuatanku. Tapi itu juga kunci yang mengikatku. Mengunciku bersama kalian sehingga aku tidak punya pilihan lain kecuali bergabung.”
”Kau sudah bersama kami sejak hari kau mendapatkan identitas Forgessa 77 mu, Ningsih. Kau yang memilih. Dan kekuatanmu, kau hanya tak sadar bahwa ia sudah ada sejak dulu. Justru kunci itulah yang membawamu sadar akan kekuatanmu,” jelas Tri lagi.
”Dan apa pembelaan kalian atas apa yang kalian lakukan pada Pras?!”
”Kau belum siap menghadapi masa lalumu, Ningsih. Kami hanya menunda sampai kau siap untuk itu.”
”Pras tidak kutemukan di mana-mana!!”
”Dia tidak mati, Ningsih. Tapi kami masih harus mengisolasimu dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalumu.”

Wajahku tetap dingin walau hatiku koyak. Aku tak tahu apakah organ-organ tubuhku masih bekerja dengan waras. Aku tak menyangka aku akan sejauh ini. Aku tak menyangka akan kudapati bahwa masa laluku bukan seperti yang aku ingat selama ini. Aku tak menyangka aku punya kekuatan api yang destruktif. Aku tak menyangka akan terikat seperti ini. Aku bahkan tak pernah berprasangka apa-apa...

Aku ingin jadi pelacur. Kembalikan aku jadi pelacur...

”Kau akan tetap jadi pelacur, Forgessa...” Djosh akhirnya bersuara.
”Dengan sedikit pekerjaan ekstra," lanjutnya.
"Yang kau butuhkan hanya sedikit latihan... Dan pembiasaan.”

Tuesday, March 11, 2008

13 - FAP

Tapi sebentar… api? Api? Tidak mungkin. Ini semua tidak mungkin.
“Kau kenapa?” tanya Tri yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku hanya menatap batu di hadapanku bingung. Aku bahkan tidak sadar kalau Tri ada di sana.
“Ningsih, kau menangis?” tanya Tri lagi.
Kusentuh pipiku dan mendapati bahwa kata-kata Tri benar. Aku menangis. Tidak. Tidak. Kenangan itu sudah lama tersimpan. Ternyata aku yang salah. Selama ini aku yang salah. Pikiran itu betul-betul membuatku tidak tahan. Aku harus pergi dari sini.
“Ningsih! Mau ke mana?” seru Tri di belakangku. Tak kugubris seruannya. Aku terus berlari dan langsung menuju pintu keluar.
Pras. Aku teringat Pras.

Mobil Ford-ku akhirnya berhenti dengan kencang di depan sebuah rumah tua. Aku turun dan memandanginya sejenak. Kulewati pagar rumahnya yang tidak terkunci. Aku sampai di sebuah pekarangan kecil yang tertata rapi.
“Maaf, cari siapa, ya?” tanya seseorang di belakangku. Aku berbalik dan menemukan seorang lelaki muda dengan bekas luka bakar di wajahnya.
“Ningsih?” ujar lelaki muda itu tidak percaya.
“Pras, kamu –“
“Apa kabar, Ningsih?” seru Pras, memotong ucapanku. Terlihat jelas dia gembira dengan kedatanganku.
“Aku –“
“Mari masuk!”
Sebelum aku sempat menjawab, Pras sudah menggiringku masuk ke rumahnya yang sederhana. Dia menyuruhku duduk, sementara dia sendiri ke dapur dan menyuguhkanku secangkir teh.
“Ada angin apa tiba-tiba kamu ke sini, Ning? Sudah bertahun-tahun lamanya kita tidak bertemu.”
Aku membuka mulut untuk mengeluarkan seluruh kekalutanku. Namun setelah melihat paras Pras yang begitu bahagia, semua kata-kata itu hilang begitu saja. Akhirnya aku hanya memberi senyum kecil padanya.
“Tidak apa-apa. Tiba-tiba teringat kamu saja,” jawabku sekenanya. Setelah itu kami terdiam.
“Kamu ke mana saja selama ini?” tanya Pras lagi. Aku menggeleng.
“Tidak ke mana-mana. Hanya kesana-kemari demi sesuap nasi. Kamu sendiri ke mana saja?”
Pertanyaanku kembali membuat Pras bersemangat. Dia membuka mulut dan mulai bercerita mengenai apa saja yang terjadi pada dirinya sejak terakhir kami bertemu. Sesekali ia tertawa, membuat luka bakar di wajahnya turut bergerak-gerak. Untuk sebagian orang, wajahnya akan menimbulkan kesan mengerikan. Tapi tidak untukku.
Ya Tuhan… Aku penyebab luka bakar itu.
Masih kuingat persis peristiwa api yang membakar wajah Pras itu…

Monday, March 10, 2008

12 - ABS

"SnakOm! Hahaha! Aku juga masih tidak tahu dengan pasti apa SnakOm itu benar-benar ada!" tawa Tri.
Aku menjadi semakin bingung. Aku hanya menunjukkan sebuah peta, tetapi Tri sudah mengetahui apa yang kumaksud. Apa dia juga merupakan salah satu anggota SnakOm? Kucoba menjauh dari pandangannya dan melihat-lihat isi rumah tersebut. Kulihat lukisan ular yang terhunus tombak di salah satu sudut ruangannya itu. Kucoba memikirkan lukisan tersebut melambangkan apa dan akhirnya aku mengerti bahwa ternyata Tri Ramayana, raja real estate Asia, merupakan salah satu anggota 77 Consdafold. Saat itu juga tiba-tiba Tri berada di sampingku dan memberikanku sebuah kunci.
"Kunci apa ini, Tri?" tanyaku.
"Ini kunci ruangan yang berada di halaman belakang rumahku ini, yang dipenuhi hutan bambu. Masuklah ke sana dan dapatkan kekuatanmu," perintahnya.

Tanpa berpikir panjang kulaksanakan saja perintahnya dan kumasuki ruangan yang berpintukan bambu dan tertutup pohon bambu itu. Kududuk di tengah-tengah ruangan yang beralaskan tikar bambu itu. Suara gemericik air dari sungai kecil yang mengalir melewati ruangan itu sungguh menenangkan hatiku. Kupejamkan mataku dan kubiarkan otak dan tubuhku merasa rileks tanpa beban. Teringat kembali tentang rumahku yang terbakar itu. Aku masih lupa bagaimana rumahku dapat terbakar.

Kurasakan sejuknya udara sambil memikirkan betapa gilanya semua ini. Hidupku berubah 180 derajat hanya dalam waktu dua malam. Kuterus mengingat bagaimana rumahku dapat terbakar. Sudah sangat lama rasanya aku duduk di tempat ini hanya untuk memikirkan semua itu dan belum kutemukan jawaban. Aku menjadi semakin tidak sabar dan ingin marah pada diriku sendiri yang tidak mampu menemukan jawaban dari semua yang terjadi itu. Perutku pun terasa sakit sekali seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Aku menjadi semakin sulit mengendalikan tubuhku ini. Karena aku tak tahan dengan semua tadi. Akupun menjerit sekuat-kuatnya untuk melepaskan semua itu.
"Huaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!"
Saat itu pula api menyambar dari mulutku bagaikan nafas dari sang naga yang mengeluarkan api. Beruntung sekali api menyambar batu besar di depanku dan tidak terbakar. Akhirnya aku mendapat jawaban mengapa rumahku terbakar dan tewasnya kedua orang tuaku....

Tapi itu semua belum menyelesaikan pencarianku sebenarnya dan malah membuatku semakin bingung. Hawa naga, pelacur, Presiden Indonesia, menggagalkan rencana SnakOm. Apa hubungannya semua ini??????

11 - NP

Ford-ku melenggang anggun di atas aspal nan mulus. Pepohonan rindang dan bunga-bunga cantik menghiasi pinggiran jalan. Berkendara di jalanan ini membuatku merasa seperti sedang berwisata. Kubuka kaca jendelaku, menghirup udara segar yang dibumbui harumnya bunga. Satu belokan ke kanan, dan kulihat sebuah rumah bambu berdiri megah di antara deretan real estate ala Eropa. Ia tampak begitu ramah dan menenangkan.

Kuhentikan Ford-ku tepat di depan pekarangannya. Rumah ini tak berpagar. Tak ada satpam. Kubiarkan mataku menikmati kecantikan rumah ini barang sejenak, sambil meyakinkan diri untuk bersiap masuk ke dalamnya.

Sebuah lonceng tembaga berukirkan ular yang tertombak di kepala tergantung di antara ventilasi pintu masuk rumah ini, menunggu tanganku menggoyangkannya barang sesenti sehingga ia bisa memberitahukan keberadaanku kepada sang empunya rumah. Tetapi jariku lebih tertarik untuk merabanya daripada membunyikannya.

Ular. Snake. SnakOm?

Aku tersenyum kesal.

Kenapa aku membiarkan kenaifan dan omong kosong ini mengganggu hidupku?

Dan aku pun bertambah kesal. Sudah seharian ini setiap detik pikiran dan tindakanku selalu dibayangi Consdafold dengan segala embel-embelnya. Mau tak mau imaji menjadi penyelamat dunia melambungkan kenaifanku. Dan kini baru aku sadari kenaifan-kenaifan bodoh ini. Mulai dari lelaki malaikat dengan nama sandi yang terdengar seperti mafia India, organisasi penjahat berlambang omega dengan nama yang mengingatkanku pada perusahaan jasa telekomunikasi, sampai identitas baruku dengan nama yang tak kalah menggebrak, Forgessa.

Sebenarnya aku sedang terjebak di telenovela mana? Kisah ini tidak lebih dari Saras 008!!

Tetapi sebenarnya, semakin aku ragu, semakin banyak pula hal yang meyakinkanku bahwa perihal SnakOm ini memang benar adanya. Ular tertombak ini salah satunya. Dan tentunya lelaki ini, yang tepat membukakan pintu saat aku baru akan membunyikan lonceng. Senyumnya ramah dan menawan. Dia sudah tahu maksud kehadiranku?

”Selamat datang, Ningsih...” sapanya ramah sambil mempersilakanku masuk. Aku melangkahkan kaki memasuki rumah bambu ini. Tembok dingin bercat pastel menggantikan ruas-ruas bambu pada dindingnya. Segera kukenali jam antik di sudut ruangan. Lukisan abstrak aneh dengan pola khas serta sofa acak adalah benda berikutnya yang terdeteksi oleh indera penglihatanku. Aku menoleh padanya dan tersenyum.

”Jadi kau salah satu dari mereka, Tri?”

Senyum teduhnya merekah, ”real estate selalu bisa jadi pengeruk uang, Ningsih... Setara dengan prostitusi.”

Aku tersenyum kecut. Tri Ramayana, raja real estate Asia. Sekali aku pernah melayaninya. Tak kusangka ada motif rahasia di balik bisnisnya. Kutunjukkan peta misterius yang kutemukan di kamarku sambil berharap mendapatkan sesuatu darinya. Mungkin aku sedang melangkah menuju pencerahan...

10 - FAP

“Aku harus merayu mereka dan menggali informasi-informasi krusial bukan?” tanyaku yakin. Djosh hanya tersenyum mendengar jawabanku.
“Ya, kurang lebih memang seperti itu. Tapi...”
“Tapi apa?” ujarku ingin tahu.
“Gessa, kau belum menyadari kekuatanmu yang sebenarnya. Potensi yang ada di dalam dirimu sebetulnya lebih besar dari itu.”
“Maksudmu aku punya kekuatan tersembunyi?”
“Bisa dikatakan seperti itu.”
“Kekuatan apa itu?”
Djosh menggeleng.
“Aku tidak bisa memberitahumu, sebab aku sendiri belum yakin apakah dugaanku akan kekuatanmu itu benar atau tidak. Kau harus menemukan sendiri kekuatanmu yang tersembunyi itu.”

Lagi-lagi Djosh memindahkan orang seenaknya. Bila sedetik yang lalu aku berada di ruangannya, kini aku kembali ke kamarku sendiri. Aku tidak langsung mengerjakan apa yang biasanya kulakukan. Aku duduk termenung di tepi tempat tidurku. Rasanya semua ini terlalu cepat. Baru semalam aku merupakan seorang pelacur yang sering dihina orang. Sekarang aku seorang penyelamat dunia.
“Apa istimewanya kamu?” tanyaku pada pantulanku sendiri di cermin. Kulihat semua hal yang ada di sekitarku. Ya, itu barang-barangku. Ya, ini rumahku. Namun entah mengapa seluruhnya jadi terasa begitu asing.
Akupun berdiri dan mengambil jaket untuk menghangatkan diri. Aku melangkahkan kaki keluar dari rumah. Mengapa rumah ini tidak lagi terasa seperti rumah?

Sebuah rumah sederhana dan tidak terlalu besar berdiri di hadapanku. Dari sisa-sisa cat yang terdapat di sana, terlihat bahwa dulunya rumah ini berwarna biru muda. Tapi sekarang rumah ini sudah setengah terbakar dan tertimbun ilalang serta rumput liar.
Dulu ini rumahku. Hingga akhirnya terbakar dan merenggut nyawa kedua orangku. Sampai sekarang aku juga tidak tahu api itu berasal dari mana. Yang pasti kebakaran itu telah membuatku menjadi sebatang kara. Sejak saat itulah aku terpaksa menjadi seorang pelacur untuk menyambung hidup. Hina memang, tapi setidaknya hidup di jalanan mengajarkanmu banyak hal.
Aku tersenyum sedih saat bayangan kedua orang tuaku menyeruak di benakku.
Ayah, Ibu, ini Ningsih. Ningsih yang selalu dapat nilai merah di sekolah. Ningsih yang bandel dan tidak pernah menurut dengan orang tua. Ningsih yang selalu kena marah. Ningsih yang tidak memiliki masa depan cerah. Lihat Ningsih sekarang, Yah, Bu. Ningsih ternyata penyelamat dunia.
Pikiran itu berhasil membuatku termangu untuk sementara. Masih ada satu tempat lagi yang harus kudatangi.

Sunday, March 09, 2008

9 - ABS

"Forgessa 77! itulah identitasmu di organisasi kita, Consdafold. Perkenalkan, Nona, namaku Djosh 001."

"Lalu apa tugasku? Baru kali ini aku dihargai sangat besar. Mungkin pernah seorang pelangganku memberiku cek 520 juta rupiah, tapi tidak pernah pekerjaanku dihargai untuk menyelamatkan dunia. Apa hebatnya seorang pelacur sepertiku? Aku dianggap sampah oleh masyarakat sekitarku. Hahaha. Beginilah dunia, tidak pernah bisa ditebak penghuinya. Dan ternyata dunia telah menghargaiku untuk menyelamatkannya dan untuk dunia yang telah menghargaiku tak akan kubiarkan ia dikuasai para konspirator busuk itu! Djosh, lalu apa tugasku dan mengapa aku dipilih?" tanyaku kepada Djosh.

"Nona."
"Jangan panggil aku nona lagi. Kau cukup memanggilku Gessa!" sahutku memotong perkataan Djosh.
"Gessa! Telah kita sadari bersama sejak dulu dunia kita dikuasai oleh lelaki dan sampai sekarang lelaki menjadi pemimpin hampir di seluruh dunia. Memang lelaki pemimpin dunia tapi kalian wanita adalah racun dunia yang dapat memabukkan para lelaki itu! Tentang keselamatan itu mudah. Setiap kali kau melakukan sesuatu hal dan kau pulang ke rumahmu ini, semua yang telah kau lakukan tidak akan diingat orang dan kau dianggap tidak pernah ada di dunia ini. Dan setiap kali ada yang membunuhmu, engkau akan kembali hidup lagi. Hanya anggota SnakOm yang dapat membunuhmu dan selalu mengingatmu. Memang anggota SnakOm hanya 49 orang, tetapi kau harus mampu menjaga diri karena kita tidak tahu anggota SnakOm berada kapan dan di mana. Walaupun anggota SnakOm mampu merubah muka mereka, tetapi anggota Snakom memiliki gambar omega di telapak tangan mereka," jelas Djosh.

" Lanjutkan penjelasanmu, Djosh!"
"Tubuhmu sangat sempurna, Gessa, dan setiap lelaki pasti tergoda olehmu! Kau masih ingat Pak Yudi yang kau layani waktu itu? Dia adalah calon Presiden Indonesia yang baru yang telah diatur oleh SnakOm. Sastro Bardowo Yudiyono, itu nama lengkapnya. Nantinya SnakOm telah akan mengatur peperangan di Asia Tenggara yang poros masalah utamanya adalah Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Australia. Saat ini berbagai masalah antara empat negara itu semakin hangat, seperti kasus Malaysia yang menyiksa TKI dari Indonesia dan mengklaim kebudayaan Indonesia menjadi miliknya. Lalu kasus Singapura yang mengeruk pasir di pantai Indonesia secara ilegal dan Australia yang mempengaruhi lepasnya Timor Leste dari Indonesia. Dan sebentar lagi, saat ia menjadi presiden, ia akan mengumbar perang kepada tiga negara tersebut, karena negaranya semakin di hina oleh ketiga negara tersebut. Lalu ia juga akan mengusir semua investor asing dengan melanggar semua kontrak yang telah disepakati dulu oleh pemerintah Indonesia kepada investor asing tersebut. Dan kelakuannya itu mengumbar amarah dari negara-negara investor asing tersebut, seperti Cina dan Amerika yang akan membantu ketiga negara tadi," jelas Djosh.

"Djosh, bolehkah aku menebak apa tugasku?" tanya Gessa.
Djosh tersenyum sambil menjawab dengan suara bariton paraunya itu, "silakan!"

8 - NP

Entah sudah berapa gelas kopi yang kuminum hari ini. Sudah jam enam sore dan aku masih bergeming di depan laptopku.

Aku harus tahu. Aku tidak bisa lari terus.

Udara kebun yang sejuk terasa terlalu menusuk tulangku. Tanganku berkeringat sedari tadi dan aku sadar bahwa kakiku tak pernah berhenti bergerak gelisah di bawah sana. Ternyata kafein tidak cukup untuk menenangkanku. Kepalaku sudah agak terlalu pening saat kuketikkan lagi tiga kata -yang entah untuk keberapa kalinya- di search engine.

Tujuh puluh tujuh.

Kali ini dengan huruf. Dan masih sama hasilnya. Nihil. Aku sudah menelusuri ratusan entry untuk bilangan tujuh puluh tujuh ini dalam berbagai bentuk. 77, tujuh tujuh, 7 puluh 7, tujuh puluh 7, tuju pulu tuju... Dan hasilnya nihil...

Sekonyong-konyong aku teringat lagi pada lelaki asing tadi, ”lengkap sudah 77 orang!!”

Otakku hampir pecah. Aku berusaha keras untuk kembali mengingat setiap kata yang diucapkan lelaki tadi. SnakOm, menyelamatkan dunia, nuklir, empat belas, perang dunia ke-3, virus penyakit, krisis multidimensi, bencana, semua tragedi, semuanya sudah kutelusuri. Dan yang kutemukan tak pernah lebih dari sampah. Aku hampir putus asa. Aku tidak tahu lagi kemana aku harus mencari. Dan di saat itulah suara bariton parau itu terngiang di telingaku.

”Lagipula walaupun Nona hanya seorang pelacur, apakah itu tidak bisa menjadi sebuah kekuatan?”

Begitu bodohnya aku!! Sedari tadi aku berkutat entah mencari apa, ketika kunci sebenarnya adalah aku. Tidak peduli bagaimana organisasi ini bergerak, siapa pemimpinnya, apa latar belakangnya dan segala hal yang tampak penting lainnya, semua ini pada akhirnya akan menyangkut langsung pada diriku. Akhirnya aku mengerti bahwa mereka akan menggunakan diriku. Ya, sepenuhnya diriku. Tubuhku, kelembutanku, kemolekanku, otakku, cintaku, semua elemen dari diriku. Pada detik ini juga, satu kerjapan mata telah merubah keseluruhan dimensi penglihatanku. Lelaki malaikat tengah duduk manis di depanku dan aku menemukan memandang lurus ke dalam matanya, di dalam ruangan di mana kami bertemu pertama kali. Aku begitu tenang, sampai otakku yang jernih bisa mengenali ruangan ini. Aku tahu tempat ini. Aku sudah tahu siapa pria ini.

”Bukan masalah besar bagi saya untuk menekuk lutut mereka,” kali ini aku lebih percaya diri.
”Kau sudah mengerti sekarang,” ujarnya tanpa melepas senyum khasnya.
”Tapi masalah besar bagi saya mengenai identitas dan keselamatan pribadi saya.”
Kali ini aku bisa melihat senyumnya memancarkan kehangatan ketika suara bariton paraunya mengalun tegas: ”Bukan masalah besar bagi kami.”

7 - FAP

“Apa-apaan ini?” seruku marah.
“Maksud, Nona?” tanya lelaki bersenyum mengerikan itu.
“Tuan -kamu!- jangan main-main, ya!” lanjutku. “Ini pasti tidak nyata. Kamu pasti menghipnotisku dengan semacam cara sehingga aku melakukan hal-hal yang tidak bisa aku ingat. Mau kamu apa?!”
“Saya sudah bilang, saya butuh bantuan Nona untuk membantu kami mengenyahkan SnakOm.”
“Jangan bercanda! Kalau memang ini nyata dan SnakOm itu benar-benar ada, bagaimana cara menghancurkannya?”
“Hal itulah yang akan kita cari tahu bersama.”
“Tuan, tolong kembalikan saya,” pintaku dan mulai menangis. “Saya tidak tahu apa-apa. Kehilangan ingatan akhir-akhir ini saja sudah membuat saya takut. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya ingin kembali ke kehidupan saya yang normal-normal saja. Saya hanya seorang pelacur, Tuan. Saya tidak bisa menyelamatkan dunia.”
Setelah mendengar permohonanku, senyum malaikat –setan?- itu justru semakin melebar.
“Hmm… Ternyata kita kedatangan seorang pemain baru. Tampaknya Nona belum menyadari kekuatan diri sendiri yang masih terselubung. Lagipula walaupun Nona hanya seorang pelacur, apakah itu tidak bisa menjadi sebuah kekuatan?”
Akal sehatku tampaknya mulai beringsut pergi. Ini pasti mimpi. Mungkin akhir-akhir ini aku mengalami stress sehingga membayangkan ilusi yang tidak-tidak. Aku harus bangun. Setelah itu aku harus langsung ke psikiater. Mimpi. Pasti mimpi.
“Ini bukan mimpi,” kata malaikat itu singkat. Mataku makin terbelalak saat menyadari bahwa lelaki itu bisa membaca pikiranku. Lelaki itu lalu menghela napas dan mengangkat kedua bahunya lelah.
“Sepertinya,” sambung lelaki itu, “Nona cukup sulit menerima informasi yang telah saya berikan. Buktinya adalah Nona tidak pernah ingat tentang pertemuan-pertemuan kita. Itu artinya Nona menyangkal pernah bertemu dengan saya. Tampaknya saya harus mengambil jalan lain untuk meyakinkan Nona bahwa hidup umat manusia ini memang sedang diancam bahaya.”
“Maksud Anda apa?” tanyaku bingung. Lelaki itu hanya tersenyum misterius.
“Nanti Nona akan lihat sendiri,” jawabnya.
Sebelum aku sempat berkedip, lelaki itu menjentikkan kedua jarinya. Sekonyong-konyong ruangan tempat aku berdiri berputar dan berputar. Termasuk laki-laki itu, dia juga berputar. Pusarannya membutakan mataku. Pusing. Argh! Hentikan pusaran itu!

Rasa mual mendadak menyerang lambungku. Aku terbangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk muntah. Kemudian aku kembali ke kamarku dan – kamarku?
Bagaimana aku bisa tiba di kamarku?

6 - ABS

Kebingungan ini semakin melanda otakku. Rasanya kepala ini ingin pecah. Aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya terdiam saat lelaki bersuara bariton parau itu tiba-tiba menawarkanku bisinis. Lelaki itu terus memandangiku seakan-akan ingin menceritakan apa yang sedang terjadi. Kupandangi mata birunya yang indah itu. Tiba-tiba pikiranku terbawa oleh matanya yang menceritakan apa yang sedang terjadi.

Kulihat diriku sedang berlarian ke suatu tempat yang tidak kukenal sambil membawa peta. Anjing-anjing busuk, tikus got, dan sosok yang seperti iblis berkeliran di sekitarku saat aku sedang berlarian. Sepertinya aku telah menembus dimensi ruang dan waktu manusia. Peta ini membawaku pada sebuah pabrik gula bekas yang tidak terpakai lagi. Kulihat sekitar 76 orang sedang berkumpul disitu.

"Lengkap sudah 77 orang," teriak lelaki berusara bariton parau itu.
Semua mata tertuju padaku dan lelaki itu mengulang kembali penjelasan bisnisnya itu pada kami semua yang berjumlah 77 orang itu.

"Krisis yang semakin berkepanjangan di kehidupan kita di dunia ini bukanlah karena faktor alam yang semakin berkurang kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan kita di dunia ini. Kemisikinan, kelaparan, peperangan, dan berbagai bencana semua yang terjadi bukanlah karena takdir kita ataupun dunia yang sudah semakin menuju kiamat! Melainkan semua ini karena.......... Konspirasi busuk orang-orang yang ingin menjadikan dirinya dewa dan berkuasa atas dunia ini. Mereka membentuk suatu organisasi yang sangat rahasia dan hanya berjumlah 49 orang! Organisasi mereka bernama SnakOm. Mereka telah berkonspirasi dan merancang semua yang terjadi. Pola hidup masyarakat, peperangan, kemiskinan, dan kelaparan, virus penyakit, krisis multidimensi, bencana dan semua tragedi. Sekarang mereka sedang menyusun rencana yang akan menggemparkan dunia. Mereka akan menghadirkan perang dunia ke-3!!" jelas lelaki tersebut.

Serentak kami semua yang berada di tempat itu terkejut dan masih belum mengerti apa yang terjadi dan apa urusannya semua ini dengan kami.

"Sebentar lagi mereka akan membuat negara-negara maju saat ini memulai peperangan nuklirnya. Sebenarnya maksud mereka bukanlah membuat perang nuklir itu, tetapi misi utama mereka adalah menenggelamkan 2/3 pulau yang ada saat ini. Ada 14 titik penting di bumi kita ini yang dapat membuat ledakan besar dan gempa bumi hebat yang mampu menghadirkan tsunami massal dan hujan abu hebat. Salah satunya terdapat di Indonesia. Apabila SnakOm berhasil menghadirkan perang dan mengadu domba negara-negara yang berada di 14 titik tersebut, hancurlah kita semua dan mereka akan hadir membawa pembaharuan untuk menjadikan mereka semua pemimpin di dunia ini. Kepemimpinan mereka akan lebih membuat manusia menderita dari saat ini. Sebelum saya memberi tahu apa yang harus kita lakukan di mana letak titik itu dan bagaimana menghancurkan SnakOm," terang lelaki itu.

Tiba-tiba aku terbawa kembali ke tempat semula sofa yang berantakan, lukisan-lukisan abstrak. Dan lelaki bersuara bariton parau itu masih memandangiku sambil bertanya.

"Apakah Nona mau membantu kami menyelamatkan dunia?"

Saturday, March 08, 2008

5 - NP

Aku terbangun lagi. Mataku berkerjap dan kepalaku terasa berat.

Apa lagi kali ini?

Hal pertama yang otakku perintahkan adalah mencari. Hanya mataku yang bergerak, menelanjangi seluruh ruangan. Butuh beberapa detik bagi otakku untuk memerintahkan anggota tubuh lain turut bergerak, menemani mataku menelusuri setiap jengkal ruangan, melewati pintu demi pintu di tempat asing yang tidak kukenal ini. Langkahku terhenti saat memasuki sebuah ruangan besar.

Tunggu.. Tidak kukenal?

Ada perasaan aneh dalam otakku ketika melihat ruangan ini. Jam antik di sudut ruangan itu. Lukisan abstrak aneh yang khas di dekatnya. Sofa yang tersusun acak... Aku mengenali ruangan ini!!

”Selamat malam, Nona,” sebuah suara bariton parau di belakangku segera membuat tubuhku berbalik dalam kepanikan. Sungguh tak terduga, seorang malaikat tampan nan bersahaja sedang berdiri dengan dramatis. Tangannya memegang dua gelas wine entah merk apa, dan caranya tersenyum membuatku seperti berada dalam telenovela. Aku sedikit terbius dengan pemandangan ini.

”Sirup vanila?” tawarnya manis. Sekarang aku benar-benar terbius. Sirup vanila?! Laki-laki ini sudah membuatku berada di suatu tempat antah berantah dengan cara yang dramatis dan muncul dengan cara yang sangat dramatis dan sekarang dia menawarkanku segelas minuman super dramatis dalam wujud segelas sirup vanila?! Aku rasa aku sedang berada dalam masalah.

”Terima kasih,” kupasang senyum termanisku. Kuraih gelas itu dari tangannya dengan meninggalkan sedikit sentuhan halus. Wajahnya masih tetap sama, tersenyum manis. Tapi senyumnya kini membuatku ngeri. Senyum itu begitu dingin. Begitu kejam.

”Kalau boleh tahu, Tuan yang membawa saya ke sini?” aku bertanya dengan sopan. Dia tak menjawabku kecuali dengan senyuman yang sama.

”Bagaimana saya sampai di sini?” aku masih berusaha sopan. Dia bergeming dengan senyumnya. Emosiku sedikit naik. Sirup vanila ini mulai terasa memuakkan.

”Apa mau Tuan?” Tidak salah lagi. Aku begitu yakin bahwa hal terakhir yang kulakukan dalam batas kesadaranku adalah keluar dari kamar Pak Yudi dengan cek puluhan juta di dalam lingerie-ku. Meskipun sekarang cek itu masih di tempatnya semula, menemukan diriku tiba-tiba terbangun di tempat asing bukanlah pertanda sesuatu berjalan baik-baik saja. Sekuat mungkin aku menatap ke dalam matanya, dan menjaga sikapku bagai seorang lady.

Aku ingin keluar dengan cara yang terhormat dari rumah ini.

Aku merasakan aura aneh di sini. Apakah dia bisa membaca pikiranku? Senyum itu masih sama. Tapi entah mengapa aku merasakan intensitasnya menguat. Aku merasa terhipnotis dengan mata itu. Terus menatap. Terus mendingin. Terus menghujam. Sekarang sudah terlalu terlambat untuk mengalihkan pandanganku darinya.

Aku melihatnya sekarang. Jelas. Dia berlari-lari dalam derasnya hujan. Matanya begitu dingin dan kosong. Dia terkontrol. Dia mencari sesuatu. Dia memegang sebuah peta. Aku memegang sebuah peta.

Aku tersentak keras. Aku merasa seperti kehilangan otakku.

Apakah tadi benar terjadi?

Lelaki ini tetap dalam mimik yang sama. Ambiguitas sempurna. Hangat yang dingin.

Apakah itu yang aku lakukan di malam-malam selama berminggu-minggu ini?

Lelaki ini seperti membaca pikiranku. Misteri telah dimulai.

Apakah aku harus kabur sekarang?

Dia menggeleng dalam senyum yang sama, suara magisnya pun akhirnya terdengar kembali:

”Aku menawarkan bisnis...”

Friday, March 07, 2008

4 - FAP

Bayangan dari mana itu? Rasanya tadi pagi aku terbangun sendiri. Faktanya adalah aku terbangun di luar ruko. Bukan di dalamnya. Ah tapi itu tidak penting. Cairan menjijikkan yang barusan aku muntahkan ini lebih mendesak untuk dibersihkan segera.
“Ning, kamu tidak apa-apa?” tanya Pak Yudi dari balik pintu.
“Tidak apa-apa, Pak. Sebentar lagi beres, kok,” balasku berbohong.
Kuambil toilet shower dan kusemprot muntahanku hingga bersih. Jorok. Sangat jorok. Muntahan itu harus bersih dengan segera.
Tak berapa lama kemudian lantai kamar mandi sudah bersih kembali. Aku memperhatikan wajah pucatku yang terpantul pada cermin. Perlahan-lahan kusapukan perias wajah yang dapat menyulap parasku menjadi segar kembali. Setelah itu kembali kukenakan gaun sutra yang tadi sempat kutanggalkan. Tak lupa kusandangkan sepasang lingerie seksi nan menggoda di baliknya.
Kubuka pintu kamar mandi. Pak Yudi sudah terlentang di atas kasur. Menunggu. Kupasang ekspresi muka semenggoda mungkin. Orang ini kaya. Kalau dia puas, bonusku juga akan memuaskan.
“Sini, Ning, duduk di sebelah saya,” ajak Pak Yudi sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya. Kuturuti kemauannya dan mendekatkan diri di sampingnya.
“Sabar, ya, cantik. Obatnya belum bekerja,” tambah Pak Yudi.
Obat? Kulirik nakas di samping Pak Yudi. Ah tentu saja. Lelaki setua Pak Yudi ternyata memerlukan bantuan obat kuat untuk ‘bermain’. Kalau begitu perlu tenaga ekstra dariku untuk membuatnya semakin bergairah. Aku paling benci kerja rodi seperti ini.
Kami mengobrol-ngobrol beberapa saat sambil menunggu obat kuat Pak Yudi bekerja. Sembari bercengkerama, dengan genit dan nakal Pak Yudi mencolek dan meraba-raba bagian tubuhku. Tak perlu waktu lama hingga gaun sutraku terlepas, meninggalkan diriku dalam balutan lingerie tipis yang menantang. Dengan berani kulakukan hal yang sama terhadap Pak Yudi. Kukerahkan seluruh pengalamanku untuk membuat dia terangsang penuh birahi. Lelaki tua memang cenderung lebih mudah untuk dipuaskan, apalagi mengingat dirinya yang sudah bau tanah.
Pelan namun pasti, obat kuat itupun bekerja. Pak Yudi mulai merasa segagah singa. Direngkuhnya diriku dan dilepaskannya sisa-sisa kain yang menutupi kulitku. Kupasrahkan diriku dalam dekapannya. Kuikuti irama permainannya. Uang, uang, uang. Buat dia puas dan aku akan dapat uang. Persetan dengan apa yang terjadi semalam. Aku mau uang.

3 - ABS

Sudah gatal tanganku merasakan lembutnya uang dan belaian garang dari para pejabat. Speedometer menunjukkan angka 130 menyusuri jalan tol jakarta, betapa tidak sabarnya aku untuk mulai beraksi di depan para pejabat itu. Tidak terasa aku sudah sampai di depan Hotel Sahid dan dengan segera aku memarkirkan mobilku dan masuk ke lobi hotel.

Tubuh molekku dengan balutan gaun sutera yang cukup menggoda membuat birahi para lelaki di lobi hotel bergejolak tak henti. Aku dapat merasakannya dengan melihat mata mereka yang penuh nafsu memandangiku. Kutelepon Mami Rosa di mana ia sekarang.

"Mam, di mana, Mam?"
Tiba - tiba Mami Rosa muncul keluar dari lift bersama tiga lelaki.
"Mana yang lain, Mam?" tanyaku.
Sesaat kemudian Nini dan Ayu datang ke lobi.....

"Ini Ningsih, Pak Yudi, yang saya bilang tadi. Sepongannya jago banget. Ning kamu ikut Pak Yudi, ya...
Kasih yang kayak biasanya kalo bisa lebih. Hahahaha!"
Cerita Mami Rosa kepada Pak Yudi dengan ketawanya yang khas itu.

Terlihat muka Pak Yudi yang garang membuatku takut. Aku tidak tahu mengapa rasa takut ini tiba - tiba muncul. Sepertinya aku pernah merasakan hal ini. Ah mungkin hanya grogi biasa saja dengan pelanggan baru.

"Yuk, ikut Om sini, Ning!" ajak Pak yudi dengan lembut.
Tidak kusangka ternyata suaranya selembut ini. Sungguh kontras sekali dengan wajahnya yang garang itu.
"Nggak langsung, nih, Om?" tanya si Ning.
"Makan dulu aja, kamu belum sarapan kan? Om laper, nih." jawab Pak Yudi.

Kuikuti langkah Pak Yudi yang dengan segera ke parkiran mobil. Mobil mercy warna hitamnya membuatku pede pergi makan dengannya. Sekitar dua jam kami berkeliling mall dan makan. Saya sudah mendapatkan dua gelang emas putih, masing - masing tujuh gram.

Dompet Pak Yudi yang tebal dengan lima kartu ATM berebeda di dompetnya dan empat kartu kredit, ditambah uang tunai sepuluh juta di dompet membuat tangan ini semakin gatal untuk memegang juga sebagian uangnya. Sekitar jam tiga sore kami sudah kembali ke hotel. Kamar nomor 212 telah dipesan Pak Yudi untuk kami.

Sepertinya Pak Yudi sudah tidak tahan lagi ingin mendapatkan service dariku. Sebelum melayani pelanggan, seperti biasa aku memiliki ritual untuk mandi berendam di kamar mandi. Kuminta ia bersabar menungguku di kamar mandi.

Kubuka gaun suteraku dan meraba - meraba kembali tubuhku yang molek ini.
Teringat kembali kejadian tadi pagi tentang peta bodoh itu.

Sungguh aku sangat bingung mengapa aku bisa tertidur di pasar. Apa aku tidak membawa mobil saat itu? Apa Om - om yang kulayani kemarin malam tidak mengantarku dengan mobil? Terbayang di pikiranku sosok lelaki lusuh dan bau tiba - tiba menyergapku dari belakang dan membawaku ke ruko kosong..

Baunya tiba - tiba terbayang lagi dan membuatku muntah......

2 - NP

Aku termangu. Bulir-bulir air dari shower deras menyusuri setiap jengkal tubuhku. Aku tidak bisa merasakan kenikmatannya. Terlalu berat bagi panca inderaku untuk menikmati segarnya air. Seluruh tubuhku pegal. Sakit di setiap titik. Aku masih termangu.

Kejadian seperti ini lagi.

Otakku berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan kesadaran setiap detik yang kulalui semalam.

Apa yang terjadi? Kenapa aku kotor seperti ini... lagi?

Sesuatu salah dalam diriku. Aku tahu ini. Entah sejak kapan aku mulai menemukan diriku terkulai lemah di pagi hari, ketika malamnya segenap otakku yakin bahwa aku tertidur nyenyak. Entah sejak kapan urat-urat kakiku mulai bermunculan, dan tanpa sebab kakiku ditumbuhi otot-otot ramping layaknya kaki yang terlatih berjalan jauh. Aku tak pernah menemukan mengapa. Setidaknya belum.

Kuputuskan bergegas meninggalkan kekacauan ini. Setidaknya aku belum melakukan sesuatu yang membahayakan. Segera kugosok sekujur tubuhku. Jemariku sempat bingung saat kugosok kaki rampingku yang kini berotot.

Aku harus mulai berpikir..

Dua minggu? Satu minggu? Kulirik pakaian kotorku di sudut shower box.

Mengapa bisa begitu kotor? Kemana aku semalam? Seingatku tidak ada tempat yang memungkinkanku sekotor itu di dekat sini, di kompleks perumahan elit ini. Bagaimana mungkin? Apakah aku berjalan berkilo-kilo melewati kompleks, jauh ke tempat yang aku tak tahu dimana?

Dimana? Dimana??

Kukeringkan tubuhku sambil beranjak keluar kamar mandi. Mungkin ada petunjuk di dekat sini? Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan kamar. Seonggok benda asing menggugah mataku. Sebuah kertas yang basah. Dan bau, ketika kudekati. Beruntung sekali kertas ini belum begitu kering. Kubuka kertas ini dengan hati-hati, dan jijik tentunya. Sebuah peta? IQ rendahku tergelitik. Aku tertawa ngeri dalam hati. Semalam aku berjalan-jalan tanpa sadar dengan membawa sebuah peta? Tuhan, katakan aku belum gila!!

Apakah aku yang membuat peta ini?? Apa yang aku cari?? Apa sebenarnya yang terjadi??

Aku kalap. Aku sangat kalap. Beruntung serangkaian getaran lembut menyadarkanku kembali ke tempatku berada seharusnya. Kuraih handphone-ku. Mami Rosa. Asyik! Pasti orderan! Semoga pria lembut yang memesanku kali ini.

”Ya, Mami?”
”Ningsih, kamu bisa ke Sahid sekarang?”
”Boleh tahu siapa, Mami?”
”Pejabat. Kamu tahu, toh, Antasari Antasari itu? Nah, dia itu.”
”Wah asyiiik! Oke, aku langsung ke situ mami!”

Secepat kilat aku berdandan. Gaun sutra segera membalut tubuhku, memperlihatkan lekuk-lekuk sempurnanya. Lupakan saja lah masalah tadi! Berharap saja tidak terjadi lagi. Segera kupacu Ford-ku menuju Sahid. Aku terlalu excited melewatkan ini...

1 - FAP

Hari itu hujan turun dengan derasnya. Air menetes dari langit bagai menangis keras tanpa henti. Dia tetap mencari. Mencari, mencari, dan terus mencari. Ada di mana? Sebenarnya ada di mana?
Tak peduli akan hujan yang terus membuat tubuh kuyup, dia berlari melintasi jalan di malam hari. Sepi. Hari ini sepi. Tak ada kendaraan berlalu-lalang, tak ada pedagang menjual makanan. Yang ada hanya sepi dan derai hujan.
Kakinya tak kuat lagi melangkah. Lelah. Berhentilah ia di pelataran sebuah ruko terbengkalai. Tampaknya tempat itu cukup kering. Maka bergeraklah ia mencari sebuah sudut yang kering. Didekapnya dirinya guna menghangatkan tubuh sebisa mungkin. Ah apa daya…. Kantuk terlalu kuat untuk dilawan.

Dia terbangun oleh sinar matahari yang menusuk kelopak mata. Suasana ramai terbawa oleh udara ke daun telinganya. Dia membuka mata.
Pemandangan sepi yang dilihatnya tadi malam sudah berubah menjadi pasar. Orang-orang berkeliaran menjajakan dagangannya. Mengapa tidak ada yang membangunkannya?
Seketika itu juga dia menemukan jawabannya. Ternyata dia bukan satu-satunya orang yang bermalam di sekitar sana. Lebatnya hujan tadi malam telah menghindarinya dari melihat seberapa banyak gelandangan yang sedang berteduh dan beristirahat. Dia melirik dirinya sendiri. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan gelandangan-gelandangan di sekitarnya.
Dia mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. Ternyata pagi sudah pergi beberapa jam. Dia harus pulang. Terpaksa, sebetulnya. Tetapi jika tidak pulang dia akan makan di mana? Sudahlah pulang saja.
Dia menarik napas dan memerintahkan tubuhnya untuk berdiri. Berat dan pegal. Tapi bukan untuk yang pertama kalinya. Dia sudah cukup sering tidur di jalanan, sehingga pegal-pegal bukan lagi sebuah kendala. Yang bahaya itu saat ada razia malam hari. Bila sudah disergap Kamtib, mau tak mau dia harus beranjak dan mencari tempat bernaung yang lain.
Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sejujurnya dia agak lupa hingga sejauh mana ia berjalan semalam. Jalan sajalah dulu, pikirnya. Jalan pulang itu selalu mudah untuk ditemukan.
Kakinya melangkah di antara pasar kaget yang bergelimpangan. Pakaian dan sepatunya yang sudah dekil harus menjadi semakin kotor terkena lumpur dan genangan air hujan. Jorok. Sangat jorok. Lengket pula. Sesampai di rumah dia harus langsung mandi. Sebenarnya mengapa dia harus berjalan sampai sejauh ini?