Friday, May 09, 2008

20 - NP

Ada kenangan-kenangan yang menyayatku diam-diam, di saat getaran-getaran sunyi menyapa kesepianku yang terpendam. Dua bulan sudah aku berada dalam pelukan Bang Abdul, panggilan sayangku pada sang pemegang kunci dari misi kami ini. Segalanya aku dapatkan: uang yang berlimpah, cerita-cerita menyenangkan, birahi penuh gelora, kehangatan, dan bahkan kasih sayang. Tapi tak tertinggal juga perasaan pilu dari nurani seorang wanita yang mengabdikan dirinya sebagai benda mati tanpa perasaan. Aku adalah sebuah benda bernama wanita yang menawarkan sebuah harta bernama cinta, mengurasnya sampai tetes terakhir, lalu merelakan diriku dibuang sebagai ampas yang telah kehilangan sari-sari termanis dalam esensi kemanusiaannya. Ketika itulah orang-orang akan mengelu-elukan diriku sebagai pengantar kejayaan mereka. Ketika itulah aku habis.

Sebuah sentuhan lembut menghapus air mata di pipiku. Senyum hangat itu, yang aku dapatkan hampir setiap hari dalam seminggu, yang entah menentramkanku atau menghancurkanku.

“Ning, apa yang terjadi terjadilah...”

Kutatap matanya dalam-dalam. Dia tidak tahu. Ada seratus ribu tatapan bohong di balik mata yang dia bilang kesukaannya ini. Begitu juga di matanya, aku tahu itu. Dan aku belum memenangkan hatinya, meskipun aku bisa merasakan kejujurannya di saat menghibur aku yang selalu berduka. Baginya, aku adalah pecun tercerdas, terlembut, terindah, dengan hati yang paling remuk karena kisah cinta di masa lampau. Akulah kombinasi terunik dari keliaran imajinasi dan kerapuhan hati, yang tidak didapatnya dari keluarga yang dikasihinya dengan segenap hati juga. Aku tahu itu karena sampai sekarang aku belum dibuangnya, yang akan terus kupertahankan selama mungkin. Ada satu yang kutakutkan: apakah aku akan mencintainya daripada dia yang jatuh cinta padaku? Sesungguhnya, kerapuhanku adalah jujur...

“Ning...”
Senyum termanisku kulemparkan ke sudut matanya.
“Apakah kau mau ikut denganku ke Zimbabwe?”
Aku tergelak, “Zimbabwe yang satu dolarnya sama dengan seperlimapuluhjuta dolar AS itu?”
Dia pun tergelak dengan tawa renyah yang kadang kurindukan, “Ya, ada kerjaan di sana. Sepertinya aku butuh sedikit hiburan dari wanita cantik.”
Nalarku menggeliat. Pekerjaan apa gerangan? Dia tidak pernah membawa wanita dalam setiap p-e-k-e-r-j-a-a-n-n-y-a. Senyum malu-malu segera kulukis di sudut bibirku, dan dalam gerakan menggoda dengan segala maksud untuk memamerkan sensualitas, kumasukkan lingerie paling seksi ke dalam koper terdekat. Satu kecupan di telinganya sambil kubisikkan,
“Sepertinya akan menyenangkan,”
Dan kami pun bergulat.

No comments: