Forgessa menatap lesu segelas air di hadapannya. Dalam beberapa menit, rapat rahasia Consdafold akan dimulai, dan dia benar-benar tidak berminat untuk mengikutinya. Sudah berkali-kali dia meminta Djosh untuk mengizinkan dirinya untuk tidak rapat. Namun Forgessa adalah pemain krusial dalam perang ini, tentu Djosh menolak permintaannya.
“Forgessa, bagaimana misimu?” tanya Djosh membuyarkan lamunannya. Forgessa tidak sadar bahwa rapat telah dimulai.
“Tenang saja. Si Abdul itu bukan apa-apa,” jawab Forgessa malas sambil mengibaskan tangan kanannya.
“Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan yang lain? Ada kemajuan? Ya, Scalligus?” lempar Djosh lagi pada anak buahnya.
“Belum ada kemajuan yang berarti,” jawab Scalligus. “SnakOm tampaknya belum siap untuk mengambil langkah-langkah drastis. Mereka belum memecahkan telur apapun.”
“Baiklah…”
Rapat pun terus berlanjut. Forgessa diam saja, tidak berminat untuk bergabung sama sekali. Alangkah lega dirinya saat rapat itu selesai. Forgessa langsung bergegas menuju mobilnya agar segera pergi dari sana. Sialnya mobil tuanya tiba-tiba tidak bisa dinyalakan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pemuda tampan yang tiba-tiba muncul di samping jendela Forgessa. Forgessa tampak mengingat-ingat sebentar.
“Anda yang bernama sandi Scalligus, ya?”
“Betul sekali. Ada masalah dengan mobilnya?” tanya Scalligus dengan senyum ramah. Forgessa hanya mengangkat bahu.
“Boleh menumpang?” kata Forgessa.
“Tentu! Silakan!”
Tanpa banyak komentar, Forgessa pun menaiki mobil Scalligus. Forgessa tak banyak bicara. Entah mengapa dia sudah mulai jenuh. Sementara Scalligus sendiri terus mengoceh tanpa henti.
“Scalligus, aku turun di sini saja,” sela Forgessa saat mobil Scalligus berhenti di lampu merah. Sebelum Scalligus sempat menghentikannya, Forgessa sudah berlalu.
Apa mauku sekarang?
Random 5 menatap Forgessa dari layar pengintai. Sulit. Ternyata Forgessa lebih sulit untuk ditembus dari yang dipikirkannya. Dia terlalu meremehkan Forgessa.
Sunday, March 23, 2008
Thursday, March 20, 2008
18 - ABS
Entah bagaimana caraku untuk mendekati pria ini. Sorot matanya yang tajam seakan-akan mengoyak-ngoyak hati orang yang mencoba mendekatinya. Perjumpaan kami di bandara Imam Khomeini, Dubai yang telah Consdafold rencanakan membuatku gugup setengah mati untuk sekadar bertanya jam berapa saat ini. Suara gemetarku keluar saat ia sedang duduk santai membaca koran. Dipandanginya semua tubuhku yang sangat menggoda ini saat ia menoleh ke arahku sambil melihat jam Rolexnya itu. "Jam 12.30 sekarang. Apa nona tidak melihat jam digital besar yang tergantung di depan itu?" tanyanya.
"Maaf, tapi alangkah baiknya jika dengan tidak melihat jam besar itu saya sekarang memiliki teman bicara yang sangat mengesankan," jawabku kepadanya dengan jantungku yang berdegup semakin kencang.
"Perkenalkan, Nona, namaku Raizarun Abdul Tholib. Sungguh mata saya tidak akan bisa lepas dari magnet-magnet di tubuh Nona yang terus menarik mata saya untuk memandangi Nona. Boleh tahu ke mana Nona mau pergi?"
"Saya akan ke Singapura. perkenalkan, nama saya Forgessa. Dan hati saya tidak akan berhenti berdegup kencang jika terus melihat mata Tuan dan mendengar suara anda membuat saya tahu betapa lembutnya anda!"
Itulah perkenalanku dengan Raizarun Abdul Tholib, seorang tangan kanan dari SnakOm. Kami terus berbincang-berbincang di pesawat. Entah bagaimana kami bisa duduk berdampingan. Sungguh tidak terlihat ia seorang pembantai kejam. Ditambah sorot matanya itu yang membuatku makin menyukainya. Ku terus menggodanya dengan tutur kata sopan dan membuatnya tertarik padaku. Sepertinya ia mulai menyukaiku, ini terlihat dari matanya yang terus memandangiku seakan-akan tidak percaya akan kesempurnaan tubuhku ini. Tanpa sengaja kulihat tato ular dan lambang omega di telapak tangannya.
"Apa tato itu dari orang tua anda? Gambarnya sangat unik dan pasti ada maknanya. Maukah anda bercerita sedikit tentang tato itu?"
"Ini adalah tato yang diberikan kakek buyutku, seorang Al-Murrah yang menurutnya gambar ini mucul di mimpi kakek buyutku dan membuatnya mampu mengubah dunia ini di mimpinya. Dan itu ambisiku, mengubah dunia ini, dunia yang sudah dipenuhi kebusukan!"
Jawabannya itu membuatku tahu bahwa seorang SnakOm sangatlah tenang, pintar, dan sangat meyakinkan bahwa mereka sangatlah hebat. Tanpa kuduga Raizarun Abdul Tholib memberiku kartu nama dan ia juga meminta kartu namaku dan berjanji akan menghubungiku lagi nanti malam. Sepertinya ia sangat tergesa-gesa begitu pesawat telah mendarat di Bandara Internasional Changi. Sepertinya ada pertemuan rahasia yang harus segera ia hadiri.
Kuikuti langkah cepatnya itu dengan sangat hati-hati. Aku harus mengikutinya untuk mengetahui gerak-geriknya....
"Maaf, tapi alangkah baiknya jika dengan tidak melihat jam besar itu saya sekarang memiliki teman bicara yang sangat mengesankan," jawabku kepadanya dengan jantungku yang berdegup semakin kencang.
"Perkenalkan, Nona, namaku Raizarun Abdul Tholib. Sungguh mata saya tidak akan bisa lepas dari magnet-magnet di tubuh Nona yang terus menarik mata saya untuk memandangi Nona. Boleh tahu ke mana Nona mau pergi?"
"Saya akan ke Singapura. perkenalkan, nama saya Forgessa. Dan hati saya tidak akan berhenti berdegup kencang jika terus melihat mata Tuan dan mendengar suara anda membuat saya tahu betapa lembutnya anda!"
Itulah perkenalanku dengan Raizarun Abdul Tholib, seorang tangan kanan dari SnakOm. Kami terus berbincang-berbincang di pesawat. Entah bagaimana kami bisa duduk berdampingan. Sungguh tidak terlihat ia seorang pembantai kejam. Ditambah sorot matanya itu yang membuatku makin menyukainya. Ku terus menggodanya dengan tutur kata sopan dan membuatnya tertarik padaku. Sepertinya ia mulai menyukaiku, ini terlihat dari matanya yang terus memandangiku seakan-akan tidak percaya akan kesempurnaan tubuhku ini. Tanpa sengaja kulihat tato ular dan lambang omega di telapak tangannya.
"Apa tato itu dari orang tua anda? Gambarnya sangat unik dan pasti ada maknanya. Maukah anda bercerita sedikit tentang tato itu?"
"Ini adalah tato yang diberikan kakek buyutku, seorang Al-Murrah yang menurutnya gambar ini mucul di mimpi kakek buyutku dan membuatnya mampu mengubah dunia ini di mimpinya. Dan itu ambisiku, mengubah dunia ini, dunia yang sudah dipenuhi kebusukan!"
Jawabannya itu membuatku tahu bahwa seorang SnakOm sangatlah tenang, pintar, dan sangat meyakinkan bahwa mereka sangatlah hebat. Tanpa kuduga Raizarun Abdul Tholib memberiku kartu nama dan ia juga meminta kartu namaku dan berjanji akan menghubungiku lagi nanti malam. Sepertinya ia sangat tergesa-gesa begitu pesawat telah mendarat di Bandara Internasional Changi. Sepertinya ada pertemuan rahasia yang harus segera ia hadiri.
Kuikuti langkah cepatnya itu dengan sangat hati-hati. Aku harus mengikutinya untuk mengetahui gerak-geriknya....
Wednesday, March 19, 2008
17 - NP
Aku beringsut memandangi korbanku. Seorang pria paruh baya yang sederhana. Politikus ternama yang tampak begitu bersih dan bersahaja dari sisi manapun. Bahkan ketika ia tertidur pun wajahnya begitu tak bersalah, luput dari penampakan dosa besarnya. Kubelai kepala pria itu. Sedikit ragu yang bercampur perasaan bersalah menyusupi benakku.
Pemain belakang organisasi teroris dalam topeng politikus liberal. Sebenarnya aku sedang mempertaruhkan nyawa.
”Forgessa.” Sekonyong-konyong suara parau Djosh bergaung di telingaku. Aku sedang mulai membiasakan diri dengan metode telepati yang entah bagaimana telah kukuasai ini, meskipun masih aku bingung setiap kali suara bariton parau ini menyapaku.
”Jangan pernah bergerak tergesa-gesa. Tugasmu adalah membuat lelaki ini jatuh cinta padamu dengan cara selembut mungkin, sehingga kau bisa menumbuhkan cinta yang benar-benar suci. Selain itu kau harus tetap memantau setiap pergerakannya dengan mata batinmu. Ketika kau sudah benar-benar merasuk dalam hidupnya, kau akan menghabisinya perlahan-lahan. Aku minta kau untuk sangat berhati-hati dalam menyelesaikan misi ini, karena inilah jalan masuk kita menuju SnakOm.”
Aku tersenyum pedih mendengar tugas muliaku ini. Raizarun Abdul Tholib ini adalah pemain belakang yang begitu kejam membantai ratusan ribu manusia dengan politik adu dombanya dalam perang Irak. Ia bergerak di belakang JI juga CIA. Ia pula yang menjaga kelangsungan berbagai perpecahan rasial dan spiritual dengan menanamkan kebencian pada pihak-pihak yang tadinya hidup damai. Dan ia mendanai segala operasi militer, jihad, gerakan separatis dan segala tetek bengek destruktif lainnya dengan memanipulasi uang rakyat. Metode yang digunakannya yang benar-benar rapi dan terencana, yang akan aku cari tahu pula modusnya dalam misiku ini. Masih ada lagi, dengan bersembunyi di balik topeng bersihnya, sangatlah mudah baginya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah ke arah yang tampak indah namun sebenarnya mengarah kepada harakiri bangsa. Semua dilakukannya di bawah naungan satu nama: SnakOm.
Tetapi ada yang membuatku begitu gentar padanya. Caranya berbicara dengan anak dan istrinya -yang tak pernah tahu siapa ia sebenarnya- begitu lembut dan penuh cinta. Sikap yang sama pun ditebarkannya kepada semua orang: tutur bahasa yang sopan, lembut, tulus, dipadukan dengan tingkah laku halus dan anggun. Ia tampak begitu damai dan penuh cinta. Menelusuri fakta dan bukti bahwa ia bisa begitu kejam dalam membunuh dan memanipulasi orang membuat lututku bergetar. Dan sikap mentalnya meyakinkanku bahwa ia memanglah sosok teroris sejati. Begitu baik ia memperlakukan perempuan, pun gagah permainannya di atas ranjang. Ia tampak begitu terbuka, ketika sebenarnya ia sedang menebar dusta dengan kehati-hatian yang begitu mengerikan. Ini dia: ia begitu hati-hati. Sebenarnya kepercayaan diriku sudah berada di level terendah dalam menghadapi lelaki ini. Dan untuk menumbuhkan cinta... Aku tak tahu berapa lama harus kuhabiskan untuk membuka pintu masuk Consdafold ke dalam penghancuran SnakOm. Sepertinya pekerjaan ini akan mengikatku seumur hidup.
Pemain belakang organisasi teroris dalam topeng politikus liberal. Sebenarnya aku sedang mempertaruhkan nyawa.
”Forgessa.” Sekonyong-konyong suara parau Djosh bergaung di telingaku. Aku sedang mulai membiasakan diri dengan metode telepati yang entah bagaimana telah kukuasai ini, meskipun masih aku bingung setiap kali suara bariton parau ini menyapaku.
”Jangan pernah bergerak tergesa-gesa. Tugasmu adalah membuat lelaki ini jatuh cinta padamu dengan cara selembut mungkin, sehingga kau bisa menumbuhkan cinta yang benar-benar suci. Selain itu kau harus tetap memantau setiap pergerakannya dengan mata batinmu. Ketika kau sudah benar-benar merasuk dalam hidupnya, kau akan menghabisinya perlahan-lahan. Aku minta kau untuk sangat berhati-hati dalam menyelesaikan misi ini, karena inilah jalan masuk kita menuju SnakOm.”
Aku tersenyum pedih mendengar tugas muliaku ini. Raizarun Abdul Tholib ini adalah pemain belakang yang begitu kejam membantai ratusan ribu manusia dengan politik adu dombanya dalam perang Irak. Ia bergerak di belakang JI juga CIA. Ia pula yang menjaga kelangsungan berbagai perpecahan rasial dan spiritual dengan menanamkan kebencian pada pihak-pihak yang tadinya hidup damai. Dan ia mendanai segala operasi militer, jihad, gerakan separatis dan segala tetek bengek destruktif lainnya dengan memanipulasi uang rakyat. Metode yang digunakannya yang benar-benar rapi dan terencana, yang akan aku cari tahu pula modusnya dalam misiku ini. Masih ada lagi, dengan bersembunyi di balik topeng bersihnya, sangatlah mudah baginya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah ke arah yang tampak indah namun sebenarnya mengarah kepada harakiri bangsa. Semua dilakukannya di bawah naungan satu nama: SnakOm.
Tetapi ada yang membuatku begitu gentar padanya. Caranya berbicara dengan anak dan istrinya -yang tak pernah tahu siapa ia sebenarnya- begitu lembut dan penuh cinta. Sikap yang sama pun ditebarkannya kepada semua orang: tutur bahasa yang sopan, lembut, tulus, dipadukan dengan tingkah laku halus dan anggun. Ia tampak begitu damai dan penuh cinta. Menelusuri fakta dan bukti bahwa ia bisa begitu kejam dalam membunuh dan memanipulasi orang membuat lututku bergetar. Dan sikap mentalnya meyakinkanku bahwa ia memanglah sosok teroris sejati. Begitu baik ia memperlakukan perempuan, pun gagah permainannya di atas ranjang. Ia tampak begitu terbuka, ketika sebenarnya ia sedang menebar dusta dengan kehati-hatian yang begitu mengerikan. Ini dia: ia begitu hati-hati. Sebenarnya kepercayaan diriku sudah berada di level terendah dalam menghadapi lelaki ini. Dan untuk menumbuhkan cinta... Aku tak tahu berapa lama harus kuhabiskan untuk membuka pintu masuk Consdafold ke dalam penghancuran SnakOm. Sepertinya pekerjaan ini akan mengikatku seumur hidup.
Sunday, March 16, 2008
16 - FAP
Random 5 berdiri di hadapan sebuah pintu. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Seorang ajudan mempersilakannya masuk dengan sebuah anggukan kepala. Di dalam ruangan itu, duduk seorang pria setengah baya di balik meja. Dengan tenang, pria itu hanya memperhatikan Random 5 dari balik asap cerutunya. Tangannya bergerak, isyarat bagi Random 5 untuk mendekat. Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari lacinya. Sebuah lencana. Pada bagian depan lencana itu, terdapat ukiran ular dan lambang omega yang saling melintang.
“Selamat atas kenaikan pangkatmu. Kau siap untuk menjalankan tugasmu sebagai agen ganda, Random 5?” tanya pria itu serius.
“Siap, Random 1,” jawab Random 5.
“Ingat! Jangan sampai mereka mengetahui nama Random 5, yaitu sandi identitasmu di dalam SnakOm. Kau harus bermain dengan sempurna, agar mereka tidak curiga bahwa kau sebenarnya adalah mata-mata SnakOm. Mengerti?”
“Mengerti.”
Lagi-lagi dengan satu gerakan tangan, Random 1 mengusir Random 5 dari ruang kerjanya. Random 5 tidak menghabiskan waktu lagi. Dia segera menuju lapangan parkir bawah tanah dan menjalankan mobil merahnya. Meskipun sudah bersemangat untuk segera memulai tugasnya, sayang jalanan macet harus menghambatnya. Sambil menunggu lalu lintas lancar, Random 5 mengeluarkan sebuah foto dari map yang tergeletak di kursi penumpang.
Random 5 memperhatikan gambar seorang wanita cantik di tangannya.
“Forgessa 77,” gumam Random 5. “Jadi kau wanita yang harus aku perdaya?”
Random 5 mematut wajah tampannya pada kaca spion. Melihat parasnya sendiri, Random 5 tersenyum. Sepertinya tidak akan sulit untuk memikat Forgessa 77.
Tak lama kemudian, mobil merah Random 5 berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta.
Random 5 adalah seorang agen ganda yang sangat ahli di bidangnya. Sudah bertahun-tahun dia menekuni dunia ini. Awalnya dia merupakan seorang agen bermasa depan cerah di Badan Intelijen Negara Indonesia. Namun semua birokrasi itu membuatnya gemas. Sampai akhirnya SnakOm mendengar tentang keahliannya dan langsung merekrut Random 5. Saat itu SnakOm memberikan iming-iming yang luar biasa pada Random 5. Dengan keahliannya, Random 5 mencari tahu apakah organisasi gelap bernama SnakOm itu memang benar-benar ada. Di balik penelusurannya, Random 5 justru mendapatkan fakta bahwa SnakOm merupakan suatu organisasi yang tidak main-main. Kekuatannya luar biasa. Inilah kesempatan yang telah ditunggu Random 5 sejak dulu. Tanpa pikir panjang, Random 5 menerima tawaran SnakOm.
Sekarang ia siap menjadi agen ganda di SnakOm dan Consdafold.
“Selamat atas kenaikan pangkatmu. Kau siap untuk menjalankan tugasmu sebagai agen ganda, Random 5?” tanya pria itu serius.
“Siap, Random 1,” jawab Random 5.
“Ingat! Jangan sampai mereka mengetahui nama Random 5, yaitu sandi identitasmu di dalam SnakOm. Kau harus bermain dengan sempurna, agar mereka tidak curiga bahwa kau sebenarnya adalah mata-mata SnakOm. Mengerti?”
“Mengerti.”
Lagi-lagi dengan satu gerakan tangan, Random 1 mengusir Random 5 dari ruang kerjanya. Random 5 tidak menghabiskan waktu lagi. Dia segera menuju lapangan parkir bawah tanah dan menjalankan mobil merahnya. Meskipun sudah bersemangat untuk segera memulai tugasnya, sayang jalanan macet harus menghambatnya. Sambil menunggu lalu lintas lancar, Random 5 mengeluarkan sebuah foto dari map yang tergeletak di kursi penumpang.
Random 5 memperhatikan gambar seorang wanita cantik di tangannya.
“Forgessa 77,” gumam Random 5. “Jadi kau wanita yang harus aku perdaya?”
Random 5 mematut wajah tampannya pada kaca spion. Melihat parasnya sendiri, Random 5 tersenyum. Sepertinya tidak akan sulit untuk memikat Forgessa 77.
Tak lama kemudian, mobil merah Random 5 berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta.
Random 5 adalah seorang agen ganda yang sangat ahli di bidangnya. Sudah bertahun-tahun dia menekuni dunia ini. Awalnya dia merupakan seorang agen bermasa depan cerah di Badan Intelijen Negara Indonesia. Namun semua birokrasi itu membuatnya gemas. Sampai akhirnya SnakOm mendengar tentang keahliannya dan langsung merekrut Random 5. Saat itu SnakOm memberikan iming-iming yang luar biasa pada Random 5. Dengan keahliannya, Random 5 mencari tahu apakah organisasi gelap bernama SnakOm itu memang benar-benar ada. Di balik penelusurannya, Random 5 justru mendapatkan fakta bahwa SnakOm merupakan suatu organisasi yang tidak main-main. Kekuatannya luar biasa. Inilah kesempatan yang telah ditunggu Random 5 sejak dulu. Tanpa pikir panjang, Random 5 menerima tawaran SnakOm.
Sekarang ia siap menjadi agen ganda di SnakOm dan Consdafold.
15 - ABS
Saat kuingat semua kenangan lama, aku semakin malas untuk menyelesaikan semua misi omong kosong ini. Semua ini kebohongan, hanya itu yang di pikiranku saat ini ketika kuingat semua kenangan itu.
"Tri! Mana kunci mobilku? Biarkan aku pergi sebentar untuk menenangkan pikiranku!"
"Ini kunci mobilmu! Jangan terlalu lama kau pergi, masih banyak yang harus kita selesaikan!" sahut Tri.
Djosh hanya tersenyum seperti biasanya melihatku pergi. Aku merasa aneh, sepertinya Djosh tahu apa yang akan terjadi dan ia juga tahu apa yang kupikirkan saat ini. Akhir-akhir ini aku semakin sering memikirkan Djosh. Ah, biarkan saja. Toh, Djosh memang tampan. Kubawa mobil ford-ku melintasi hutan bambu untuk pergi ke pusat perbelanjaan di Kota. Sedikit minum Jack Daniels di bar mungkin akan menenangkan pikiranku. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas. Tidak terasa sudah tiga gelas aku minum. Sepertinya saraf-saraf sadarku mulai bergerak semaunya dan halusinasi mulai menggelayuti otakku.
Duduk di pojok samping bar membuatku dapat melihat keluar. Orang-orang yang hilir mudik. Seketika alkohol membuatku berhalusinasi. Kulihat semua yang ada ini berubah mengerikan. Muka-muka iblis hilir mudik di depanku berteriak minta dibebaskan, menarikku ke dalam neraka kehancuran, semuanya hancur, hanya debu abu-abu yang ada menjadi santapan bagi orang-orang di sana. Apakah aku ingin semua ini terjadi? Memang aku adalah seorang pelacur dan aku lebih suka menjadi pelacur dibandingkan menyelamatkan dunia dan menyelesaikan misi omong kosong ini. Mendapatkan uang dan kenikmatan, itulah konsep dasar yang sangat kusukai menjadi pelacur. Tapi aku tidak mempunyai suatu tujuan hidup. Sejak aku mendapat misi ini aku memiliki tujuan hidup yang selama ini telah kulupakan. Aku tersadar di tengah semua halusinasi itu. Dan kumantapkan hatiku untuk segera menerima misi.
Kutancap gas menuju ke rumah Tri. Aku sudah siap untuk segera menyelesaikan misi yang akan mereka berikan. Aku tidak akan lari dari semua kenyataan ini. Akan kuhadapi semua ini, semua takdirku menjadi seorang Forgessa 77. Kutapaki jalan setapak di halaman rumah Tri untuk segera mengatakan kepadanya, " cepat kita selesaikan semua ini!"
"Memangnya kami ingin berlama-lama menyelesaikannya? Dasar bodoh!!" jawab Tri dengan tersenyum miris.
Djosh, yang sudah berada di ruang rapat dengan berbagai rencana lain Consdafold untuk mengagalkan rencana Snakom, segera menyuruhku duduk.
"Kita tutup sebentar semua rencana tadi. Saya akan menjelaskan misimu, Gessa, dan misimulah yang memegang peranan penting bagi semua rencana kita!" tutur Djosh.
"Tri! Mana kunci mobilku? Biarkan aku pergi sebentar untuk menenangkan pikiranku!"
"Ini kunci mobilmu! Jangan terlalu lama kau pergi, masih banyak yang harus kita selesaikan!" sahut Tri.
Djosh hanya tersenyum seperti biasanya melihatku pergi. Aku merasa aneh, sepertinya Djosh tahu apa yang akan terjadi dan ia juga tahu apa yang kupikirkan saat ini. Akhir-akhir ini aku semakin sering memikirkan Djosh. Ah, biarkan saja. Toh, Djosh memang tampan. Kubawa mobil ford-ku melintasi hutan bambu untuk pergi ke pusat perbelanjaan di Kota. Sedikit minum Jack Daniels di bar mungkin akan menenangkan pikiranku. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas. Tidak terasa sudah tiga gelas aku minum. Sepertinya saraf-saraf sadarku mulai bergerak semaunya dan halusinasi mulai menggelayuti otakku.
Duduk di pojok samping bar membuatku dapat melihat keluar. Orang-orang yang hilir mudik. Seketika alkohol membuatku berhalusinasi. Kulihat semua yang ada ini berubah mengerikan. Muka-muka iblis hilir mudik di depanku berteriak minta dibebaskan, menarikku ke dalam neraka kehancuran, semuanya hancur, hanya debu abu-abu yang ada menjadi santapan bagi orang-orang di sana. Apakah aku ingin semua ini terjadi? Memang aku adalah seorang pelacur dan aku lebih suka menjadi pelacur dibandingkan menyelamatkan dunia dan menyelesaikan misi omong kosong ini. Mendapatkan uang dan kenikmatan, itulah konsep dasar yang sangat kusukai menjadi pelacur. Tapi aku tidak mempunyai suatu tujuan hidup. Sejak aku mendapat misi ini aku memiliki tujuan hidup yang selama ini telah kulupakan. Aku tersadar di tengah semua halusinasi itu. Dan kumantapkan hatiku untuk segera menerima misi.
Kutancap gas menuju ke rumah Tri. Aku sudah siap untuk segera menyelesaikan misi yang akan mereka berikan. Aku tidak akan lari dari semua kenyataan ini. Akan kuhadapi semua ini, semua takdirku menjadi seorang Forgessa 77. Kutapaki jalan setapak di halaman rumah Tri untuk segera mengatakan kepadanya, " cepat kita selesaikan semua ini!"
"Memangnya kami ingin berlama-lama menyelesaikannya? Dasar bodoh!!" jawab Tri dengan tersenyum miris.
Djosh, yang sudah berada di ruang rapat dengan berbagai rencana lain Consdafold untuk mengagalkan rencana Snakom, segera menyuruhku duduk.
"Kita tutup sebentar semua rencana tadi. Saya akan menjelaskan misimu, Gessa, dan misimulah yang memegang peranan penting bagi semua rencana kita!" tutur Djosh.
Wednesday, March 12, 2008
14 - NP
Api di mana-mana. Dia menari-nari indah dalam kobaran api. Senyumnya terulas pedih. Dibiarkannya api menjilati tubuhnya. Jelaga menghabisi kecantikannya. Tapi dia tidak terbakar.
AKU TIDAK TERBAKAR!!!
Aku terlonjak bangun. Gerakanku begitu tiba-tiba sampai dua orang polisi yang tadinya mengurusi aku mundur sekitar dua meter. Satu kerdip. Kudapati Tri Ramayana berdiri tenang beberapa meter dariku. Dua kerdip. Kudapati lidah-lidah api mungil menari anggun menghabisi sisa-sisa puing rumah tua Pras lengkap dengan halamannya. Tiga kerdip. Tak ada Pras dimana-mana.
”Pras!!! Mana Pras?!” aku terlonjak berdiri. Hatiku tidak karuan. Apa lagi kali ini?! Kedua polisi di sampingku berusaha menenangkanku, tapi tenaga mereka tak cukup kuat untuk menghentikan langkah panikku menuju puing-puing rumah. Tak kutemukan apa-apa, dan selanjutnya aku tak mengerti lagi ke mana kakiku melangkah. Yang kuingat hanyalah langkah-langkah bingungku diiringi tatapan prihatin orang-orang dalam kacaunya hiruk pikuk. Selanjutnya gelap.
***
Aku terbangun. Hal pertama yang kulihat adalah jam antik di sudut ruangan. Selanjutnya kukenali lukisan abstrak aneh serta susunan acak sofa tempatku tidur ini. Rumah Tri Ramayana. Aku tersenyum pedih ketika kujumpai dia duduk manis di depanku. Bersama Djosh tentunya.
”Kalian berdua setan,” sapaku dingin. Aku sendiri terkejut mendapati ketenanganku ketika mengucap kalimat ini.
”Ningsih, bukan kami yang membakar rumah Pras,” Tri berusaha menjelaskan walaupun Djosh tetap tersenyum tenang seperti biasanya.
”Aku tahu aku yang melakukannya. Kau ingat kunci yang kau berikan, Tri? Ya, kunci itu membawaku menemukan kekuatanku. Tapi itu juga kunci yang mengikatku. Mengunciku bersama kalian sehingga aku tidak punya pilihan lain kecuali bergabung.”
”Kau sudah bersama kami sejak hari kau mendapatkan identitas Forgessa 77 mu, Ningsih. Kau yang memilih. Dan kekuatanmu, kau hanya tak sadar bahwa ia sudah ada sejak dulu. Justru kunci itulah yang membawamu sadar akan kekuatanmu,” jelas Tri lagi.
”Dan apa pembelaan kalian atas apa yang kalian lakukan pada Pras?!”
”Kau belum siap menghadapi masa lalumu, Ningsih. Kami hanya menunda sampai kau siap untuk itu.”
”Pras tidak kutemukan di mana-mana!!”
”Dia tidak mati, Ningsih. Tapi kami masih harus mengisolasimu dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalumu.”
Wajahku tetap dingin walau hatiku koyak. Aku tak tahu apakah organ-organ tubuhku masih bekerja dengan waras. Aku tak menyangka aku akan sejauh ini. Aku tak menyangka akan kudapati bahwa masa laluku bukan seperti yang aku ingat selama ini. Aku tak menyangka aku punya kekuatan api yang destruktif. Aku tak menyangka akan terikat seperti ini. Aku bahkan tak pernah berprasangka apa-apa...
Aku ingin jadi pelacur. Kembalikan aku jadi pelacur...
”Kau akan tetap jadi pelacur, Forgessa...” Djosh akhirnya bersuara.
”Dengan sedikit pekerjaan ekstra," lanjutnya.
"Yang kau butuhkan hanya sedikit latihan... Dan pembiasaan.”
AKU TIDAK TERBAKAR!!!
Aku terlonjak bangun. Gerakanku begitu tiba-tiba sampai dua orang polisi yang tadinya mengurusi aku mundur sekitar dua meter. Satu kerdip. Kudapati Tri Ramayana berdiri tenang beberapa meter dariku. Dua kerdip. Kudapati lidah-lidah api mungil menari anggun menghabisi sisa-sisa puing rumah tua Pras lengkap dengan halamannya. Tiga kerdip. Tak ada Pras dimana-mana.
”Pras!!! Mana Pras?!” aku terlonjak berdiri. Hatiku tidak karuan. Apa lagi kali ini?! Kedua polisi di sampingku berusaha menenangkanku, tapi tenaga mereka tak cukup kuat untuk menghentikan langkah panikku menuju puing-puing rumah. Tak kutemukan apa-apa, dan selanjutnya aku tak mengerti lagi ke mana kakiku melangkah. Yang kuingat hanyalah langkah-langkah bingungku diiringi tatapan prihatin orang-orang dalam kacaunya hiruk pikuk. Selanjutnya gelap.
***
Aku terbangun. Hal pertama yang kulihat adalah jam antik di sudut ruangan. Selanjutnya kukenali lukisan abstrak aneh serta susunan acak sofa tempatku tidur ini. Rumah Tri Ramayana. Aku tersenyum pedih ketika kujumpai dia duduk manis di depanku. Bersama Djosh tentunya.
”Kalian berdua setan,” sapaku dingin. Aku sendiri terkejut mendapati ketenanganku ketika mengucap kalimat ini.
”Ningsih, bukan kami yang membakar rumah Pras,” Tri berusaha menjelaskan walaupun Djosh tetap tersenyum tenang seperti biasanya.
”Aku tahu aku yang melakukannya. Kau ingat kunci yang kau berikan, Tri? Ya, kunci itu membawaku menemukan kekuatanku. Tapi itu juga kunci yang mengikatku. Mengunciku bersama kalian sehingga aku tidak punya pilihan lain kecuali bergabung.”
”Kau sudah bersama kami sejak hari kau mendapatkan identitas Forgessa 77 mu, Ningsih. Kau yang memilih. Dan kekuatanmu, kau hanya tak sadar bahwa ia sudah ada sejak dulu. Justru kunci itulah yang membawamu sadar akan kekuatanmu,” jelas Tri lagi.
”Dan apa pembelaan kalian atas apa yang kalian lakukan pada Pras?!”
”Kau belum siap menghadapi masa lalumu, Ningsih. Kami hanya menunda sampai kau siap untuk itu.”
”Pras tidak kutemukan di mana-mana!!”
”Dia tidak mati, Ningsih. Tapi kami masih harus mengisolasimu dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalumu.”
Wajahku tetap dingin walau hatiku koyak. Aku tak tahu apakah organ-organ tubuhku masih bekerja dengan waras. Aku tak menyangka aku akan sejauh ini. Aku tak menyangka akan kudapati bahwa masa laluku bukan seperti yang aku ingat selama ini. Aku tak menyangka aku punya kekuatan api yang destruktif. Aku tak menyangka akan terikat seperti ini. Aku bahkan tak pernah berprasangka apa-apa...
Aku ingin jadi pelacur. Kembalikan aku jadi pelacur...
”Kau akan tetap jadi pelacur, Forgessa...” Djosh akhirnya bersuara.
”Dengan sedikit pekerjaan ekstra," lanjutnya.
"Yang kau butuhkan hanya sedikit latihan... Dan pembiasaan.”
Tuesday, March 11, 2008
13 - FAP
Tapi sebentar… api? Api? Tidak mungkin. Ini semua tidak mungkin.
“Kau kenapa?” tanya Tri yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku hanya menatap batu di hadapanku bingung. Aku bahkan tidak sadar kalau Tri ada di sana.
“Ningsih, kau menangis?” tanya Tri lagi.
Kusentuh pipiku dan mendapati bahwa kata-kata Tri benar. Aku menangis. Tidak. Tidak. Kenangan itu sudah lama tersimpan. Ternyata aku yang salah. Selama ini aku yang salah. Pikiran itu betul-betul membuatku tidak tahan. Aku harus pergi dari sini.
“Ningsih! Mau ke mana?” seru Tri di belakangku. Tak kugubris seruannya. Aku terus berlari dan langsung menuju pintu keluar.
Pras. Aku teringat Pras.
Mobil Ford-ku akhirnya berhenti dengan kencang di depan sebuah rumah tua. Aku turun dan memandanginya sejenak. Kulewati pagar rumahnya yang tidak terkunci. Aku sampai di sebuah pekarangan kecil yang tertata rapi.
“Maaf, cari siapa, ya?” tanya seseorang di belakangku. Aku berbalik dan menemukan seorang lelaki muda dengan bekas luka bakar di wajahnya.
“Ningsih?” ujar lelaki muda itu tidak percaya.
“Pras, kamu –“
“Apa kabar, Ningsih?” seru Pras, memotong ucapanku. Terlihat jelas dia gembira dengan kedatanganku.
“Aku –“
“Mari masuk!”
Sebelum aku sempat menjawab, Pras sudah menggiringku masuk ke rumahnya yang sederhana. Dia menyuruhku duduk, sementara dia sendiri ke dapur dan menyuguhkanku secangkir teh.
“Ada angin apa tiba-tiba kamu ke sini, Ning? Sudah bertahun-tahun lamanya kita tidak bertemu.”
Aku membuka mulut untuk mengeluarkan seluruh kekalutanku. Namun setelah melihat paras Pras yang begitu bahagia, semua kata-kata itu hilang begitu saja. Akhirnya aku hanya memberi senyum kecil padanya.
“Tidak apa-apa. Tiba-tiba teringat kamu saja,” jawabku sekenanya. Setelah itu kami terdiam.
“Kamu ke mana saja selama ini?” tanya Pras lagi. Aku menggeleng.
“Tidak ke mana-mana. Hanya kesana-kemari demi sesuap nasi. Kamu sendiri ke mana saja?”
Pertanyaanku kembali membuat Pras bersemangat. Dia membuka mulut dan mulai bercerita mengenai apa saja yang terjadi pada dirinya sejak terakhir kami bertemu. Sesekali ia tertawa, membuat luka bakar di wajahnya turut bergerak-gerak. Untuk sebagian orang, wajahnya akan menimbulkan kesan mengerikan. Tapi tidak untukku.
Ya Tuhan… Aku penyebab luka bakar itu.
Masih kuingat persis peristiwa api yang membakar wajah Pras itu…
“Kau kenapa?” tanya Tri yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku hanya menatap batu di hadapanku bingung. Aku bahkan tidak sadar kalau Tri ada di sana.
“Ningsih, kau menangis?” tanya Tri lagi.
Kusentuh pipiku dan mendapati bahwa kata-kata Tri benar. Aku menangis. Tidak. Tidak. Kenangan itu sudah lama tersimpan. Ternyata aku yang salah. Selama ini aku yang salah. Pikiran itu betul-betul membuatku tidak tahan. Aku harus pergi dari sini.
“Ningsih! Mau ke mana?” seru Tri di belakangku. Tak kugubris seruannya. Aku terus berlari dan langsung menuju pintu keluar.
Pras. Aku teringat Pras.
Mobil Ford-ku akhirnya berhenti dengan kencang di depan sebuah rumah tua. Aku turun dan memandanginya sejenak. Kulewati pagar rumahnya yang tidak terkunci. Aku sampai di sebuah pekarangan kecil yang tertata rapi.
“Maaf, cari siapa, ya?” tanya seseorang di belakangku. Aku berbalik dan menemukan seorang lelaki muda dengan bekas luka bakar di wajahnya.
“Ningsih?” ujar lelaki muda itu tidak percaya.
“Pras, kamu –“
“Apa kabar, Ningsih?” seru Pras, memotong ucapanku. Terlihat jelas dia gembira dengan kedatanganku.
“Aku –“
“Mari masuk!”
Sebelum aku sempat menjawab, Pras sudah menggiringku masuk ke rumahnya yang sederhana. Dia menyuruhku duduk, sementara dia sendiri ke dapur dan menyuguhkanku secangkir teh.
“Ada angin apa tiba-tiba kamu ke sini, Ning? Sudah bertahun-tahun lamanya kita tidak bertemu.”
Aku membuka mulut untuk mengeluarkan seluruh kekalutanku. Namun setelah melihat paras Pras yang begitu bahagia, semua kata-kata itu hilang begitu saja. Akhirnya aku hanya memberi senyum kecil padanya.
“Tidak apa-apa. Tiba-tiba teringat kamu saja,” jawabku sekenanya. Setelah itu kami terdiam.
“Kamu ke mana saja selama ini?” tanya Pras lagi. Aku menggeleng.
“Tidak ke mana-mana. Hanya kesana-kemari demi sesuap nasi. Kamu sendiri ke mana saja?”
Pertanyaanku kembali membuat Pras bersemangat. Dia membuka mulut dan mulai bercerita mengenai apa saja yang terjadi pada dirinya sejak terakhir kami bertemu. Sesekali ia tertawa, membuat luka bakar di wajahnya turut bergerak-gerak. Untuk sebagian orang, wajahnya akan menimbulkan kesan mengerikan. Tapi tidak untukku.
Ya Tuhan… Aku penyebab luka bakar itu.
Masih kuingat persis peristiwa api yang membakar wajah Pras itu…
Subscribe to:
Posts (Atom)